Registration    |     Login
 

Mengenal Quarter Life Crisis: Apa Penyebab dan Tandanya?

Mengenal Quarter Life Crisis: Apa Penyebab dan Tandanya?

pexels, stress, frustrated, depressed, quarter life crisis, life crisis, crisis, life, sad, work, crisis work, stressed out.
Sumber: Pexels.com

Quarter Life Crisis atau QLC merupakan sebuah kondisi dimana seseorang mulai mempertanyakan apa tujuan hidupnya, dan mulai berpikir berlebihan atau over thinking terhadap suatu pilihan atau suatu siklus dalam hidupnya. Biasanya, QLC terjadi pada seseorang yang sedang menjalani transisi ke masa kedewasaan seperti, mereka yang berusia 21 tahun hingga awal 30-an. Hal ini kerap terjadi karena, pada fase tersebut biasanya seseorang akan mengalami perubahan siklus kehidupan, dari lingkungan perkuliahan ke lingkungan pekerjaan, atau bahkan ke jenjang pernikahan dan berkeluarga.

Transformasi yang cukup mengejutkan ini biasanya akan memicu krisis seperempat abad, anda mulai bertanya-tanya apakah anda sedang berada di jalur yang tepat? Atau bahkan mulai menyesali pilihan pekerjaan atau pasangan? Tenang, anda tidak sendiri dan ternyata fenomena ini cukup wajar!

Menurut penelitian dari Harvard Business Review, mereka yang mengalami QLC akan melewati 4 fase;

    • Pertama, perasaan seakan-akan terjebak dalam komitmen datang menghantui. Entah itu dalam pekerjaan, atau bahkan hubungan yang dirasa kurang pas atau disesali.
    • Kedua, kesepian yang mendalam. Biasanya fase kedua yang datang adalah munculnya perasaan bahwa tidak ada orang yang paham betul apa yang anda butuhkan, sehingga anda merasa kesepian dan sendiri di dunia ini.
    • Ketiga, muncul kesadaran dimana selama ini kita hanya berpura-pura menjadi orang dewasa, tanpa merasakan seutuhnya bahwa sebenarnya memang sudah dewasa. Biasanya, rasa kesepian akan berlanjut ke frustasi ringan dimana ada perasaan kehilangan jati diri dan arah.
    • Fase keempat, pada akhirnya muncul kesadaran tentang apa yang kita inginkan dan butuhkan. Beberapa memilih untuk mencari pekerjaan di bidang yang baru, mencari pasangan baru, atau bahkan akhirnya bisa menerima versi dewasa dari diri mereka. Biasanya, setelah fase ini terlewatkan kebanyakan akan merasa lega dan akhirnya mulai melihat tujuan atau arti baru dalam hidup mereka.

Menurut berbagai sumber, QLC bisa muncul dari beberapa faktor seperti frustasi menghadapi lingkungan kerja, lingkungan sosial yang kompetitif, dan ternyata ada pengaruh dari media sosial. Media sosial ternyata turut menyumbang rasa tidak percaya diri, dan harapan yang tidak realistis dari unggahan-unggahan yang dibuat penggunanya di seluruh dunia, terutama dari influencer atau selebriti yang rajin mengunggah aset mereka, atau bahkan kehidupan pribadinya. Lantas, bagaimana cara menyikapinya?

Beberapa orang memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap fenomena QLC. Ada yang menanggapinya dengan serius, dan ada juga yang tidak. Berikut beberapa tips untuk menyiasati QLC:

  • Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain! Rasa paranoid, menurunnya kepercayaan diri bisa semakin parah apabila kita terus menerus membandingkan pencapaian, hubungan, atau bahkan situasi hidup kita dengan orang lain.
  • Bicarakan dengan kawan. Salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah membicarakan apa yang kita rasakan dengan teman dekat. Mungkin, saran yang kita dapat tidak seberapa, tetapi pasti akan ada rasa lega setelah meluapkan emosi yang tertahan.
  • Kelilingi dirimu dengan orang yang tepat. Sudah saatnya kita mengeliminasi teman, pacar, atau rekan yang tidak membawa pengaruh baik dalam hidup kita.
  • Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Terkadang, secara tidak sadar kita memaksakan kehendak untuk mencapai suatu tujuan yang mustahil. Hal ini murni dilakukan karena rasa gengsi atau ingin membuktikan diri sendiri ke orang lain. Sebaiknya, kita harus lebih mengenal potensi diri dan kemampuan masing-masing.

 

Baca juga: Cara Jitu Menghilangkan Rasa Jenuh Dalam Bekerja