Jadwalkan Demo

Penting bagi HR! Memahami Attrition Rate, Penyebab, dan Cara Menghitungnya

Rizka Maria Merdeka | February 19, 2024 | Human Resource (HR)
by GreatDay HR

Dalam dunia bisnis yang dinamis, pemahaman terhadap tingkat perpindahan karyawan atau attrition rate menjadi krusial bagi kesuksesan suatu organisasi. Attrition rate tidak hanya mengukur jumlah karyawan yang meninggalkan perusahaan, tetapi juga mencerminkan dinamika dan kesehatan organisasi secara keseluruhan.

Artikel ini akan menyajikan pemahaman komprehensif tentang attrition rate, dimulai dari pengertian dasar hingga cara menghitungnya. Akan dibahas juga mengenai penyebab utama di balik tingkat perpindahan yang tinggi, serta berbagai jenis attrition rate karyawan yang dapat mempengaruhi berbagai aspek perusahaan.

Dengan memahami konsep attrition rate para HR dapat menyusun strategi yang lebih baik untuk meningkatkan retensi karyawan dan menjaga keseimbangan di perusahaan. Simak selengkapnya!

Baca juga: 5 Hal Ini Dapat Meningkatkan Retensi Karyawan di Perusahaan

Apa itu attrition rate?

Attrition rate adalah ukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat kehilangan karyawan atau pelanggan dalam suatu periode waktu tertentu. Secara umum, attrition rate mengindikasikan persentase atau rasio dari jumlah karyawan atau pelanggan yang keluar dari suatu perusahaan atau sistem dalam suatu periode waktu tertentu.

Dalam konteks sumber daya manusia (SDM), attrition rate dapat merujuk pada tingkat perpindahan karyawan, baik melalui resignasi, pensiun, atau pemutusan hubungan kerja. Tingkat perpindahan yang tinggi dapat menjadi indikator masalah di dalam perusahaan, seperti ketidakpuasan karyawan, kurangnya peluang pengembangan karir, atau masalah lingkungan kerja.

Di sisi lain, dalam konteks pelanggan, attrition rate mengacu pada tingkat kehilangan pelanggan dalam suatu bisnis atau layanan. Misalnya, dalam industri telekomunikasi, attrition rate dapat mencerminkan berapa banyak pelanggan yang beralih ke penyedia layanan lain atau berhenti menggunakan layanan tersebut.

Tingkat perpindahan yang tinggi biasanya dapat menjadi perhatian bagi manajemen, dan mereka mungkin perlu mengidentifikasi penyebabnya dan mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan kerugian tersebut, baik melalui perbaikan kondisi kerja, peningkatan kebijakan sumber daya manusia, atau strategi retensi pelanggan.

Baca juga: Pengembangan Karir Karyawan: Strategi dan Teknik yang Meningkatkan Retensi Karyawan

Penyebab attrition rate

Tingkat attrition dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dan penyebabnya dapat bervariasi tergantung pada konteks, seperti sumber daya manusia atau pelanggan. Beberapa penyebab umum attrition rate meliputi:

1. Ketidakpuasan karyawan

Karyawan yang merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka, baik karena ketidaksesuaian antara keterampilan dan pekerjaan, kebijakan perusahaan yang tidak memadai, atau ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja, dapat meningkatkan kemungkinan mereka untuk meninggalkan perusahaan.

2. Kurangnya peluang pengembangan

Karyawan yang tidak melihat adanya peluang pengembangan karir atau peluang untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam perusahaan mungkin cenderung mencari peluang di tempat lain.

3. Kompensasi yang tidak memadai

Gaji dan tunjangan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab atau standar industri dapat menjadi faktor yang signifikan dalam keputusan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain.

4. Ketidakjelasan dalam komunikasi organisasi

Kurangnya komunikasi atau ketidakjelasan mengenai tujuan perusahaan, kebijakan, dan harapan dapat menyebabkan ketidakpastian di antara karyawan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat attrition.

5. Ketidakseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi

Beban kerja yang berlebihan atau kurangnya fleksibilitas dalam jadwal kerja dapat menyebabkan karyawan merasa kelelahan dan kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

6.Ketidakcocokan dengan budaya perusahaan

Karyawan yang tidak merasa cocok dengan nilai dan budaya perusahaan mungkin merasa tidak nyaman atau tidak terhubung, yang dapat memotivasi mereka untuk mencari kesempatan di tempat lain.

7. Ketidakpuasan pelanggan

Dalam konteks pelanggan, ketidakpuasan dengan produk atau layanan, pelayanan pelanggan yang buruk, atau perubahan kebijakan yang merugikan dapat mendorong pelanggan untuk beralih ke penyedia layanan atau produk lain.

8. Perubahan dalam kondisi ekonomi

Perubahan ekonomi, seperti resesi, pemotongan anggaran, atau restrukturisasi perusahaan, dapat memengaruhi stabilitas pekerjaan dan memicu attrition rate yang lebih tinggi.

Baca juga: Dampak Turnover Karyawan pada Bisnis dan Cara Mengatasinya

Jenis-jenis attrition rate karyawan

Employee attrition rate atau attrition rate karyawan dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan konteks dan fokus pengukurannya. Berikut adalah beberapa jenis attrition rate yang umum:

1. Voluntary Attrition Rate

Merupakan tingkat perpindahan karyawan yang dilakukan secara sukarela atau atas keinginan sendiri. Ini termasuk resignasi atau pensiun karyawan.

2. Involuntary Attrition Rate

Merupakan tingkat perpindahan karyawan yang disebabkan oleh keputusan perusahaan, seperti pemutusan hubungan kerja atau pengurangan tenaga kerja.

3. Functional Attrition Rate

Fokus pada tingkat perpindahan dalam suatu fungsi atau departemen tertentu di dalam organisasi. Ini membantu dalam mengidentifikasi area atau posisi yang mungkin mengalami masalah.

4. Strategic Attrition Rate

Menilai tingkat perpindahan di antara karyawan yang memiliki peran atau keterampilan strategis tertentu yang kritis untuk kesuksesan organisasi.

5. Early Career Attrition Rate

Mengukur attrition rate karyawan pada tahap awal karir mereka. Ini dapat memberikan wawasan tentang efektivitas program pengembangan karyawan dan retensi di awal karir.

6. Mid-Career Attrition Rate

Fokus pada tingkat perpindahan di antara karyawan yang telah bekerja untuk jangka waktu tertentu dan mungkin berada di tengah-tengah karir mereka.

7. Late Career Attrition Rate

Menilai attrition rate karyawan yang mendekati pensiun. Ini dapat menjadi pertanda perubahan dalam komposisi tenaga kerja dan kehilangan pengetahuan dan pengalaman kritis.

8. Top Talent Attrition Rate

Mengukur attrition rate di kalangan karyawan yang dianggap sebagai “talent” atau karyawan berkinerja tinggi. Kehilangan top talent dapat memiliki dampak signifikan pada produktivitas dan inovasi organisasi.

9. Overall Attrition Rate

Merupakan tingkat keseluruhan perpindahan karyawan di seluruh organisasi, tidak memandang fungsi atau level karyawan.

10. Industry Attrition Rate

Mengukur attrition rate karyawan dalam industri tertentu. Ini dapat membantu organisasi untuk memahami dinamika sumber daya manusia di sektor mereka.

Memahami jenis-jenis attrition rate ini dapat membantu organisasi untuk merinci dan menganalisis perpindahan karyawan dengan lebih baik, serta mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk meningkatkan retensi dan kepuasan karyawan.

Baca juga: Employee Turnover – Sebab Akibat dan Cara Mengendalikannya

Cara menghitung attrition rate

Banyak perusahaan menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghitung attrition rate karyawan, tetapi memahami rumus attrition dapat membantu Anda memahami angka dan persentase yang terlibat. Biasanya, bisnis menentukan attrition rate per bulan, per kuartal, atau per tahun.

Saat menentukan attrition rate karyawan, Anda mungkin dapat menggunakan angka yang eksak. Attrition rate pelanggan mungkin melibatkan penelitian tambahan dan perkiraan. Berikut adalah cara menghitung attrition rate karyawan:

  1. Mulai dengan jumlah karyawan pada awal periode.
  2. Tentukan berapa banyak karyawan yang keluar selama periode tersebut.
  3. Cari tahu berapa banyak karyawan yang dipekerjakan selama periode tersebut.
  4. Tambahkan jumlah karyawan yang keluar dan jumlah perekrutan baru untuk mengetahui berapa banyak karyawan yang berakhir.
  5. Temukan rata-rata karyawan dengan menambahkan jumlah awal dan akhir, kemudian dibagi dua.
  6. Bagi rata-rata karyawan dengan jumlah karyawan yang keluar untuk mengetahui attrition rate dalam bentuk desimal.
  7. Kalikan desimal tersebut dengan 100 untuk mendapatkan attrition rate sebagai persentase.

Contoh hitung:

Sebagai contoh, seorang spesialis sumber daya manusia perlu mencari tahu attrition rate karyawan tahunan. Perusahaan memulai tahun dengan 200 karyawan. Selama tahun itu, 20 karyawan keluar dan 12 dipekerjakan. Berikut adalah cara HR mengukur attrition rate tahunan:

200 – 20 = 180

180 + 12 = 192

200 + 192 = 392

396 / 2 = 198

20 / 198 = 0,1010

* 0,1010 × 100 = 10,10%

Secara rutin menentukan attrition rate dapat membantu mengidentifikasi tren. Jika Anda menghitung attrition rate bulanan dan kuartalan, Anda mungkin melihat tingkat tersebut naik atau turun. Umumnya, persentase attrition yang lebih rendah menunjukkan bahwa Anda berhasil mempertahankan karyawan atau pelanggan. Jika Anda mengkoordinasikan attrition rate dengan survei karyawan atau pelanggan, Anda dapat menemukan hubungan antara keduanya yang dapat membantu meningkatkan perusahaan.

Sebagai contoh, Anda mungkin mendapatkan hasil positif dari survei karyawan yang menanyakan tentang kebijakan jam kerja fleksibel baru. Selama beberapa bulan berikutnya, attrition rate lebih rendah dari biasanya. Dengan hasil survei dan attrition rate, Anda dapat menyimpulkan bahwa kebijakan jam kerja fleksibel kemungkinan membantu mempertahankan lebih banyak karyawan.

Baca juga: Pahami 21 HR Metrics yang Penting bagi HR Profesional dan Cara Menghitungnya

Trending Article
01
Rizka Maria Merdeka | November 28, 2023
22 Contoh Kelebihan dan Kekurangan Diri Saat…
02
Rizka Maria Merdeka | October 25, 2023
Penting! Panduan Lengkap Pangkat Golongan PNS Terbaru…
03
Rizka Maria Merdeka | November 18, 2021
14 Contoh Penulisan Notulen Rapat yang Tepat.…
Subscribe News Letter
Get notification on your email