Penting! Panduan Lengkap Mengenai Break Even Point (BEP)

By Rifqi Renanda   |  

Dalam sebuah bisnis setiap pelaku usaha tidak mungkin terlepas dari yang namanya rugi dan laba. Laba dapat diperoleh ketika pendapatan lebih besar daripada seluruh biaya yang harus dikeluarkan untuk aktivitas bisnis, dimana biasanya akan melibatkan produksi barang, maupun menyediakan layanan. 

Sedangkan kerugian dialami pengusaha saat keadaan berbalik, yaitu dimana pendapatan tidak lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan dalam periode bisnis tersebut. Untuk menghindari hal buruk inilah, pengusaha perlu tahu yang namanya Break-even Point atau dalam istilah akutansinya disebut sebagai titik impas. 

Apa Itu Break Even Point (BEP)? 

Break even point (BEP) adalah titik dimana pengeluaran yang dikeluarkan seimbang dengan pendapatan, sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian atau keuntungan.

Pada titik BEP, total keuntungan dan kerugian adalah 0, yang berarti perusahaan berada pada titik impas dan berposisi netral.

Selain itu, Break even point juga dapat menjadi indikator jual-beli saham karena analisa BEP yang tepat membuat orang-orang memahami kapan harus membeli saham (call) dan kapan harus dijual (put).

Baca juga: Mengenal Activity Based Costing Beserta Fungsi dan Penerapannya Dalam Bisnis

Manfaat Menghitung Break Even Point

Agar struktur laba suatu perusahaan dapat lebih mudah dipahami, maka Break Even Point (BEP) digunakan untuk menggambarkan hubungan antara jumlah kegiatan, biaya, dan laba. 

Mencapai keuntungan tentunya menjadi tujuan utama perusahaan manapun. Agar perusahaan dapat mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa manfaat  menguntungkan bagi perusahaan yang menghitung BEP, yaitu:

  • Untuk memperkirakan harga jual terendah agar tidak mengalami kerugian jika bisnis sedang menurun.
  • Membantu menghitung kisaran unit yang harus dijual kepada konsumen, ini berlaku bagi bisnis yang menjual produk atau jasa.
  • Menentukan jumlah maksimum laba yang dapat diperoleh.
  • Menentukan dampak pada laba berkenaan dengan biaya tetap yang digunakan  selama aktivitas bisnis.
  • Memperhitungan perubahan laba jika di tengah jalan terjadi perubahan produk/jasa.

Faktor yang Mempengaruhi Break Even Point Perusahaan

Sumber: Pexels.com

Demi mengetahui target perusahaan dalam menutupi biaya produksi, maka perusahaan perlu melakukan perhitungan break even point. Namun, beberapa faktor membuat BEP cenderung mengalami peningkatan atau penurunan. 

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi Break even point:

1. Peningkatan Volume Produksi

Permintaan pasar atau demand yang semakin tinggi pasti akan membuat perusahaan meningkatkan produksi barang. Pada kondisi ini, break even point (BEP) akan menjadi lebih besar dari sebelumnya karena biaya produksi yang juga meningkat.

2. Semakin Mahalnya Harga Bahan Baku

Tidak hanya volume produksi, harga bahan baku juga dapat mempengaruhi BEP perusahaan. Hal ini dikarenakan harga bahan baku yang semakin mahal setiap tahunnya. 

Seperti volume produksi, kenaikan harga bahan baku ini juga akan mempengaruhi biaya produksi, yang nantinya akan meningkatkan BEP perusahaan.

3. Pemeliharaan Alat-Alat

Jika perusahaan Anda menggunakan alat-alat yang mendukung produksi Anda, maka suatu saat mesin tersebut pasti perlu diperbaiki. Untuk memperbaiki alat produksi tersebut, tentunya perusahaan Anda perlu mengeluarkan biaya. Biaya tambahan inilah yang nantinya akan berdampak pada BEP perusahaan Anda.

4. Biaya Tambahan Tak Terduga

Selain semua biaya yang disebutkan diatas, terdapat beberapa biaya yang dapat dikelompokkan sebagai biaya tak terduga. Harga sewa gedung, gaji, dan biaya-biaya sejenisnya dapat mengalami peningkatan yang tak terduga yang dapat membuat break even point lebih tinggi dari sebelumnya.

Baca juga: Informasi Lengkap tentang Biaya Overhead untuk Perusahaan Anda

Asumsi Break Even Point

Perhitungan BEP bergantung pada beberapa konsep atau asumsi yang menjadi dasar. Berikut adalah beberapa asumsi yang digunakan untuk menghitung BEP:

  1. Biaya pada perusahaan wajib dikelompokkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel
  2. Perubahan total biaya variabel dipengaruhi oleh berubahnya volume, sedangkan tidak akan ada perubahan yang terjadi pada biaya tetap.
  3. Biaya tetap per unit akan berubah-ubah, sedangkan jumlah biaya tetap tidak mengalami perubahan meskipun kegiatan berubah.
  4. Harga jual per unit tetap sama selama periode analisis
  5. Produk yang diproduksi dianggap selalu terjual hingga habis.
  6. Jumlah produk yang diproduksi dianggap selalu habis terjual.
  7. Hanya satu jenis produk yang dijual perusahaan, jika ditemukan lebih dari satu produk yang dibuat atau dijual, maka “perimbangan hasil penjualan” setiap produk dianggap tetap.

Komponen Pembentuk BEP

Sumber: Pexels.com

Untuk menghitung titik impas, maka perlu ada beberapa komponen seperti fixed cost (biaya tetap), variable cost (biaya variabel)  dan selling price (harga jual). Berikut adalah penjelasannya.

Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya yang tidak akan berubah, harus tetap dibayar, serta tidak bergantung pada jumlah barang/jasa yang dihasilkan. Pengeluaran-pengeluaran bisnis ini sendiri biasanya terkait dengan uang sewa gedung, asuransi setiap bulanan atau tahunan, pajak bangunan. 

Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya yang bisa meningkat atau menurun tergantung pada produk atau jasa yang dihasilkan. Nantinya semakin banyak produk/jasa yang yang bisa dijual kepada konsumen, maka biaya variabel lainnya juga akan semakin tinggi.

Harga Penjualan (Selling Price)

Merupakan harga jual yang termasuk dalam biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas bisnis, dan ditambah dengan jumlah laba yang diinginkan. 

Setelah mengetahui komponen di atas, sekarang kita akan mencoba untuk menghitung jumlah titik impas menggunakan rumus.

Metode Perhitungan dan Rumus BEP

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, BEP digunakan untuk mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam memproduksi barangnya dan berapa pendapatan yang harus diperoleh untuk menutupi biaya produksi tersebut.

Untuk mendapatkan BEP yang tepat, perlu dilakukan perhitungan yang akurat. Berikut adalah beberapa rumus BEP yang umum digunakan:

Rumus pertama yang digunakan untuk menghitung break even point (BEP) adalah rumus yang membagi biaya tetap dengan selisih dari harga jual per unit dengan biaya variabel per unit. 

Persamaan ini digunakan untuk mencari titik setara antara jumlah beban, jumlah unit, dan jumlah biaya yang dikeluarkan.

BEP per unit produk = Biaya Tetap : (Harga jual/unit – biaya variabel/unit)

Penting untuk diketahui bahwa hasil dari pengurangan harga jual per unit dan biaya variabel per unit adalah sama dengan margin kontribusi (contribution margin). Dengan mengetahui margin kontribusi, perusahaan dapat dengan mudah memisahkan biaya tetap produksi dengan keuntungan. 

Namun, BEP tidak hanya dihitung dalam bentuk unit saja. Break even point juga dapat didapatkan berdasarkan nilai penjualan. Untuk menghitung BEP yang didasarkan dari nilai penjualan, maka perhatikan rumus berikut:

BEP berdasarkan nilai penjualan : BEP =  Biaya tetap : (1 – (Biaya variabel : Harga))

Selanjutnya, untuk menghitung omset yang mungkin didapatkan dengan BEP, Anda perlu mengetahui sebelumnya berapa banyak minimal unit yang harus dijual. 

Jika sudah mengetahuinya, Anda cukup mengalikannya dengan biaya per unitnya. Perhatikan rumus berikut untuk mengetahui omset dari BEP.

Omset BEP = BEP per unit x harga jual per unit

Ketiga rumus di atas sebaiknya Anda gunakan agar dapat mengetahui BEP perusahaan Anda secara tepat.

Contoh Perhitungan Break Even Point

Setelah mengetahui rumus apa saja yang perlu digunakan untuk mendapatkan BEP yang benar, sekarang saatnya Anda menerapkannya ke dalam perusahaan Anda. Masih bingung? Jangan khawatir. Kami telah memberikan contoh perhitungan break even point dibawah ini untuk membantu Anda.

Jika seorang pengusaha A mendirikan usaha baju dan memproduksi 50 helai/bulan dengan harga Rp. 40.000/buah. Sedangkan untuk biaya variabel per helai baju rata-rata Rp. 20.000 dan rata-rata biaya tetap tahunan Rp 2.000.000.

Lalu berapa jumlah baju yang harus diproduksi agar harga per baju bisa mencapai BEP?

Langkah pertama hitung jumlah yang harus diproduksi

BEP unit produk = Biaya Tetap : (Harga jual/unit – biaya variabel/unit)

= 2.000.000 / (40.000 – 20.000) = 100 buah baju

BEP nilai penjualan  = Biaya tetap : (1 – (Biaya variabel : Harga))

= 2.000.000 / (1 – (20.000/40.000) = Rp 4.000.000

Untuk mendapatkan omset di atas coba hitung kembali dengan mengalikan unit BEP x harga jual per unit.

Omset BEP = BEP per unit x harga jual per unit

BEP = 100 x Rp 40.000 = Rp 4.000.000

Dari break-even point inilah sebuah usaha dapat mengendalikan resiko yang akan terjadi, dan tentunya akan memudahkan jumlah unit yang harus diproduksi dan harga penjualan yang harus didapat usaha tersebut tidak mengalami kerugian.

Cara Menerapkan Break Even Point pada Bisnis Secara Efektif

Untuk dapat mengetahui titik impas dan mendapatkan hasil yang diinginkan, tentunya manajemen harus terus bisa memantaunya dengan cara-cara berikut ini

1. Menganalisis Biaya 

Tinjau setiap variabel keuangan untuk menilai apakah ada biaya yang bisa diimprovisasi maupun dihilangkan dengan tujuan untuk meningkatkan marjin dan BEP. 

2. Menganalisa Margin

Cari tahu pendapatan penjualan satuan barang atau jasa, dan dikurangi dengan biaya tidak tetap hingga tidak tetap, nantinya dengan menghitung secara seksama para pelaku usaha dapat mendorong penjualan hingga margin tertinggi, dan bisa membantu mengurangi Break-Even Point.

3.Outsourcing

Merupakan solusi untuk para pebisnis yang sedang menyusun laporan keuangan, dan bisa mengubahnya menjadi biaya variabel per unit, sehingga perusahaan bisa lebih fokus dalam mengembangkan usahanya.

4. Melakukan Penetapan Harga

Menjadi strategi sebuah perusahaan agar dapat berkonsentrasi dari deregulasi dan persaingan pasar secara global yang semakin tinggi. Bagi mereka yang baru memasuki bisnis, ada baiknya untuk meningkatkan harga secara bertahap agar dapat diterima oleh konsumen.

Kelemahan Analisis Break-Even Point

Seperti segala hal, analisis dari break even point ini juga mempunyai beberapa kelemahan. Berikut adalah beberapa kelemahan BEP:

1.  Harus Berdasarkan Asumsi dan Bersifat Statis

Analisis BEP butuh didasarkan berbagai asumsi, khususnya tentang biaya dan pendapatan. Karenanya, asumsi yang digunakan pada perhitungan BEP ini umumnya tidak benar-benar tercerminkan dengan realita. Selain itu, karena yang dihitung adalah titik tertentu dan bukan dari sebuah periode tertentu, maka analisis BEP ini bersifat statis, sedangkan dunia bisnis bersifat dinamis.

2.  Hubungan Penjualan dan Biaya yang Erat

Dalam analisis BEP, terdapat hubungan penjualan dan biaya yang erat dan ini membuat perusahaan terlalu sering harus mengubah keadaan operasional. Contohnya, jika kapasitas penjualan sedang penuh, maka perlu biaya tambahan untuk merekrut tenaga kerja tambahan yang membuat biaya variabel meningkat. 

Selain itu, dibutuhkan juga biaya untuk membeli peralatan untuk produksi barang yang dapat membantu memenuhi permintaan yang meningkat.

3.  Risiko Tidak Menjadi Bahan Pertimbangan

Perusahaan mungkin berhadapan dengan berbagai macam risiko saat menjual produk, seperti kenaikan harga bahan baku dan yang sejenisnya. Karena analisis BEP bersifat statis dan berasumsi bahwa tidak ada harga yang berubah, maka risiko semacam itu tidak terlalu dipertimbangkan.

Tentunya, ini membuat analisis BEP dapat dikatakan menjadi kurang lengkap.

4.  Mengukur Kemungkinan Penjualan yang Terlalu Banyak

Salah satu asumsi analisis BEP adalah bahwa harga penjualan akan terus konstan. Mengetahui hal ini, jika Anda ingin mengetahui laba yang mungkin didapatkan pada harga berbeda, maka Anda harus membuat analisis break even point pada tiap tingkatan harga. Tentunya, ini akan memakan waktu yang tidak sedikit.

Kesimpulan 

Saat mencapai bagian ini, kami berharap Anda sudah memahami mengenai BEP atau paling tidak, mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang break even point. Apabila Anda masih belum paham sepenuhnya mengenai BEP, kami akan menyimpulkannya disini.

Dapat dilihat bahwa melakukan analisis break even point atau BEP dapat sangat berguna bagi perusahaan. Perhitungan BEP yang tepat dapat membantu perusahaan untuk memperkirakan harga jual terendah, menentukan jumlah maksimum laba, menghitung kisaran unit yang harus dijual, dan lain sebagainya.

Pada saat menghitung BEP, terdapat tiga komponen pembentuk, yaitu biaya tetap, biaya variabel, dan harga penjualan. Ketiga komponen ini digunakan untuk menemukan BEP dari setiap unit, harga penjualan, hingga omset.

BEP dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti meningkatnya volume produksi, harga bahan baku yang semakin mahal, hingga biaya-biaya tidak terduga seperti biaya sewa gudang. Namun, sayangnya, seperti yang tertulis diatas, tidak termasuk dalam perhitungan BEP. 

Hal tersebut, bersama dengan analisis BEP yang berdasarkan asumsi dan bersifat statis, merupakan kelemahan dari analisis BEP ini. Oleh karena itu, analisis break even point tidak dapat digunakan untuk mengambil keputusan akhir dan sebaiknya dilengkapi oleh perhitungan finansial yang lainnya. 

Namun, menghitung BEP tetaplah penting. Agar perusahaan Anda dapat menghitung break even point dengan tepat, Anda butuh aplikasi pendukung. GreatDay HR dapat menjadi aplikasi tersebut. 

Dengan GreatDay HR, data apapun yang berkaitan dengan analisis BEP dapat disimpan dengan cepat dan diakses kapan saja dalam penyimpanan cloud kami. Sudah bersertifikasi Manajemen Kualitas ISO 9001:2015 dan Keamanan Informasi ISO 27001:2013, data Anda dijamin aman bersama kami.

Selain itu, GreatDay HR juga menghitung pengeluaran seperti penggajian secara otomatis dan mengikuti peraturan pemerintah terbaru. Bagian terbaiknya? Semua laporan dapat diunduh dalam format apa saja yang Anda butuhkan untuk membuat analisis BEP yang tepat dan akurat.

Bermanfaat, bukan? Undang GreatDay HR sekarang juga dan rasakan perhitungan BEP yang lebih tepat dari sebelumnya!

Tags : Break even point

Related Topics