Jadwalkan Demo

Simak Cara Menghitung Tarif Pajak Efektif (TER) Terbaru 2024

Rizka Maria Merdeka | February 5, 2024 | Pajak
by GreatDay HR

Perubahan atau pembaharuan terkait aturan penghitungan pajak penghasilan PPh 21 yang berlaku di awal tahun 2024 ini, memberikan tantangan baru bagi pelaku usaha dan karyawan, utamanya HR dan petugas payroll atau finance. Selain cara hitung, adanya skema pengenaan pajak berdasarkan TER (Tarif Efektif Rata-rata) harian dan bulanan per kategori dianggap sebagai beban tambahan atas pajak progresif (tahunan) yang dikenakan.

Faktanya, skema TER ini mempermudah penghitungan pajak penghasilan harian dan bulanan karyawan, bukan menambah beban pajak. Meskipun demikian, penghitungan pajak progresif tetap berlaku, namun hanya di bulan Desember saja. Sementara penghitungan pajak penghasilan Januari hingga November berlaku penghitungan menggunakan skema TER.

Artikel GreatDay HR kali ini akan membahas mengenai cara penghitungan pajak terbaru (skema TER), dan menyediakan perbandingan penghitungan pajak dengan metode Pasal 17. Untuk mempermudah pemahaman, artikel ini juga akan memberikan contoh penghitungannya melalui studi kasus.

Simak selengkapnya!

Baca juga: Tarif Pajak Terbaru Sudah Berlaku! Ini Penjelasan Mengenai TER PPh 21 Sesuai PP 58/2023

Sekilas tentang penghitungan tarif pajak efektif

Sejak 1 Januari 2024, terjadi perubahan dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) bagi orang pribadi. Perubahan ini diatur oleh Peraturan Pemerintah (PP) nomor 58 tahun 2023 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 168 Tahun 2023.

Dalam ketentuan tersebut, pemerintah menetapkan metode perhitungan PPh Pasal 21 menggunakan Tarif Efektif Rata-rata (TER). Metode ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu tarif efektif bulanan untuk setiap masa pajak kecuali masa pajak terakhir dalam satu tahun, dan tarif efektif harian.

Dengan metode baru ini, perhitungan PPh Pasal 21 bulanan dari Januari-November hanya melibatkan penghasilan bruto sebulan dikalikan dengan tarif efektif bulanan. Baru pada bulan Desember atau masa pajak terakhir, rumusnya kembali normal seperti sebelumnya.

Perhitungan normal, atau tanpa menggunakan metode TER, melibatkan penghasilan bruto setahun dikurangi biaya jabatan/pensiun, iuran pensiun, zakat atau sumbangan keagamaan wajib yang dibayar melalui pemberi kerja. Ini dilakukan untuk mendapatkan nilai pajak neto setahun.

Selanjutnya, hasilnya dikurangi dengan pendapatan yang tidak kena pajak untuk mendapatkan nilai penghasilan kena pajak setahun. Penghasilan kena pajak ini kemudian dikalikan dengan tarif pasal 17 UU PPh untuk mendapatkan nilai PPh terutang setahun. Setelah itu, total PPh yang telah dipotong dari Januari-November dikurangkan untuk mengetahui PPh 21 yang harus dipotong pada bulan Desember.

Baca juga: Pajak Natura: Pengenalan Konsep dan Pengaplikasiannya di Indonesia

Perbandingan cara penghitungan pajak penghasilan lama dan skema TER

Berlakunya skema TER pada penghitungan pajak penghasilan, membuat pelaku usaha dan karyawan gusar. Pasalnya, skema ini dianggap sebagai beban tambahan karena cara penghitungannya yang berbeda dengan penghitungan pajak penghasilan yang biasanya. Hal tersebut kemudian dijelaskan bahwa skema TER ini bukanlah beban tambahan, dan pada praktiknya justru mempermudah penghitungan pajak penghasilan bulanan gaji karyawan.

Cara penghitungan pajak penghasilan sebelumnya:

  1. Hitung penghasilan bruto Anda dalam setahun, termasuk gaji pokok, tunjangan, makan, transportasi, kesehatan, dll.
  2. Hitung PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) sesuai dengan status kekeluargaan, apakah Anda sudah menikah atau belum, hingga jumlah anak.
  3. Kurangi dengan tunjangan biaya jabatan 5% (maksimal Rp6 juta) dan iuran pensiun 5% (maksimal Rp2,4 juta). Kedua biaya tersebut diambil dari penghitungan gaji bruto selama setahun.
  4. Hitung gaji neto (gaji bruto – PTKP – iuran jabatan atau pensiun). 
  5. Setelah gaji neto didapat, kalikan dengan besaran tarif pajak yang berlaku.

Cara penghitungan pajak penghasilan skema TER:

Harian: Gaji bruto harian dikalikan dengan besaran pajak pada skema TER berdasarkan kategori A, B, atau C

Bulanan: Gaji bruto bulanan dikalikan dengan besaran pajak pada skema TER berdasarkan kategori A, B, atau C

Baca juga: Objek Pemotongan PPh 21: Apa yang Harus Diketahui oleh Setiap Karyawan

Contoh penghitungan tarif pajak efektif TER 2024

Untuk lebih memahami lagi, berikut contoh perbandingan penghitungan pajak penghasilan Pasal 17 (pajak progresif) dengan penghitungan pajak penghasilan skema TER (Tarif Efektif Rata-rata terbaru).

Indi, seorang Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah menikah dan tidak memiliki tanggungan, bekerja sebagai pegawai tetap di PT NBC dengan penghasilan bulanan sebesar Rp10.000.000,00.

Perhitungan PPh lama:

Menurut peraturan pemotongan PPh yang berlaku saat ini, perhitungan dilakukan sebagai berikut:

Dengan mengurangkan Biaya Jabatan sebesar 5% dari gaji Rp10.000.000,00, yaitu Rp500.000,00, maka penghasilan neto bulanan Indi menjadi Rp9.500.000,00. Penghasilan neto setahun dihitung dengan mengalikan penghasilan neto bulanan dengan jumlah bulan, yaitu:

12×Rp9.500.000,00=Rp114.000.000,00

12×Rp9.500.000,00=Rp114.000.000,00

Berdasarkan status Indi sebagai kawin tanpa tanggungan (K/0), PTKP setahunnya adalah Rp58.500.000,00. Sehingga, total pengurangan dari penghasilan neto setahun adalah Rp58.500.000,00, dan Penghasilan Kena Pajak setahun menjadi Rp55.500.000,00.

Maka, total PPh Pasal 21 terutang dihitung sebagai 5% dari Rp55.500.000,00, yaitu Rp2.775.000,00. PPh Pasal 21 per bulannya menjadi Rp2.775.000,00 dibagi 12, dengan total akhir sebesar Rp231.250,00.

Perhitungan tarif efektif atau TER:

Berdasarkan status PTKP dan jumlah penghasilan bruto, pemberi kerja menghitung PPh Pasal 21 Indi menggunakan Tarif Efektif Kategori A dengan tarif 2,25%. Oleh karena itu, jumlah pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan Indi adalah:

  • Januari – November: Rp10.000.000,00 x 2,25% = Rp225.000,00/bln
  • Desember: Rp2.775.000,00 – (Rp225.000,00 x 11) = Rp300.000,00

Selisih pemotongan sebesar Rp75.000,00.

Baca juga: Mekanisme Payroll #2: Penghitungan Komponen Pajak PPh 21 dalam Penggajian di Perusahaan Secara Digital

Hitung pajak lebih mudah dan otomatis dengan GreatDay HR

cara menghitung tarif pajak efektif gdhr

Adanya pemberlakuan skema baru terkait peraturan penghitungan dan tarif pajak saat ini menjadi tantangan baru dalam manajemen penggajian. Pajak sendiri menjadi unsur kunci dalam perhitungan gaji perusahaan, sementara komponen gaji lainnya, seperti potongan, bonus, dan BPJS, juga harus dihitung secara akurat.

Aturan baru ini menimbulkan risiko kekeliruan dalam penghitungan pajak karena sosialisasi dan pemahaman yang belum merata. Sementara dalam penghitungan gaji, kesalahan kecil pun dapat berdampak pada karyawan juga perusahaan. Untuk mengatasi hal ini, GreatDay HR menyediakan fitur Payroll yang membantu menyederhanakan pengelolaan gaji, termasuk perhitungan komponen pajak.

Anda tidak perlu khawatir tentang perubahan aturan pajak secara berkala karena GreatDay HR secara konsisten melakukan pembaharuan dan penyesuaian sesuai dengan aturan pajak terbaru, termasuk aturan mengenai Tarif Efektif Rata-rata (TER). Dengan aplikasi ini, penghitungan gaji dan pajak dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat.

Jangan ragu lagi! Segera berlangganan dan unduh aplikasi GreatDay HR untuk penghitungan pajak yang lebih efektif!

Trending Article
01
Rizka Maria Merdeka | November 28, 2023
22 Contoh Kelebihan dan Kekurangan Diri Saat…
02
Rizka Maria Merdeka | October 25, 2023
Penting! Panduan Lengkap Pangkat Golongan PNS Terbaru…
03
Rizka Maria Merdeka | November 18, 2021
14 Contoh Penulisan Notulen Rapat yang Tepat.…
Subscribe News Letter
Get notification on your email