Jadwalkan Demo

Fraud Triangle: Penyebab Kecurangan Laporan Keuangan Perusahaan

Rizka Maria Merdeka | March 23, 2022 | Keuangan
by GreatDay HR

Fraud triangle adalah sebuah istilah terkait kecurangan yang dikenal terutama di dalam lingkungan perbisnisan. Secara harfiah, fraud triangle berarti segitiga kecurangan. Umumnya, istilah fraud triangle digunakan untuk menggambarkan tiga kondisi penyebab terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan di ranah bisnis atau perusahaan.

Banyak risiko yang harus dihadapi dan diantisipasi di dalam berbisnis, salah satunya adalah kecurangan. Risiko lainnya dapat berasal dari faktor eksternal seperti kendala pada supplier, bencana alam, pandemi, serta faktor internal misalnya kecurangan laporan keuangan dan penggelapan dana. Fraud triangle juga merupakan teori yang membahas kecurangan yang terjadi dalam bisnis. Teori fraud triangle tersebut dikemukakan pada tahun 1950-an oleh Donald R. Cressey, di mana dalam teorinya tersebut Cressey menjelaskan alasan atau faktor penyebab kecurangan di perusahaan.

Apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya kecurangan di perusahaan? Penjelasan lebih lengkap terkait fraud triangle, faktor penyebab, serta contohnya akan diulas di dalam artikel ini. Simak ulasan berikut ini untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang fraud triangle!

Baca juga: Mengenal Blue Collar Crime dan Jenis Kejahatan Lainnya

Apa itu fraud triangle?

Fraud triangle adalah tiga kondisi/skema/dorongan penyebab dilakukannya upaya untuk mendapatkan keuntungan pribadi individu atau golongan tertentu dengan melakukan cara-cara ilegal atau melanggar hukum. Hal ini biasanya banyak terjadi di dalam bisnis terutama dalam lingkungan perusahaan, salah satunya adalah manipulasi laporan keuangan.

Fraud sendiri merupakan salah satu jenis pelanggaran yang sering ditemukan, terutama menyangkut hal keuangan. Para pelaku bisnis sangat menghindari dan melakukan banyak usaha pencegahan terhadap risiko fraud karena dampaknya yang sangat merugikan bahkan membuat bisnis terkait mengalami kebangkrutan. Pasalnya, fraud triangle merupakan pelanggaran yang dilakukan dengan unsur kesengajaan disertai dengan upaya untuk menutupi kecurangan yang dilakukan.

Dalam dunia bisnis, siapa saja memiliki potensi untuk melakukan fraud, terutama di dalam lingkungan perusahaan besar dengan jumlah karyawan yang banyak. Dari permasalahan tersebut, Donald R. Cressey kemudian mengembangkan teori fraud triangle untuk mengungkap faktor-faktor penyebab terjadinya kecurangan terkait keuangan dalam perusahaan. Istilah fraud triangle sendiri muncul karena menurut Cressey terdapat tiga kondisi yang menjadi penyebab terjadinya kecurangan di dalam bisnis, yaitu tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan pembenaran (rationalization). Tiga kondisi atau dorongan tersebut kemudian menjadi hal yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan kecurangan.

Baca juga: Laporan Keuangan – Pengertian, Fungsi, Hingga Contohnya

Faktor penyebab fraud triangle

Menurut Cressey dalam teori fraud triangle, terdapat tiga faktor yang menyebabkan kecurangan keuangan di dalam suatu perusahaan terjadi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa faktor atau kondisi tersebut ialah tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Berikut adalah penjelasan terkait ketiga kondisi atau faktor penyebab terjadinya fraud.

1. Adanya tekanan

Faktor yang pertama adalah adanya tekanan atau pressure. Tekanan yang dialami oleh pelaku fraud mendorong dan memotivasinya untuk melakukan perbuatan ilegal yang merugikan keuangan perusahaan. Dampak dari tekanan kehidupan yang dialami membuat pelaku tidak dapat berpikir secara jernih atas tindakan, konsekuensi, serta akibat yang mungkin ditimbulkan pada dirinya dan orang lain jika dia melakukan hal tersebut. Biasanya saat berada di dalam situasi sulit seseorang tidak bisa berpikir secara logis sehingga membuatnya bertindak di luar nalar. Jika orang tersebut merupakan salah satu karyawan dalam suatu perusahaan maka ada kemungkinan orang tersebut berpotensi melakukan kecurangan seperti pencurian, pemalsuan, penerimaan suap, dan lain sebagainya. Berikut beberapa contoh tekanan yang berpotensi memaksa seseorang berbuat fraud.

  1. Kebutuhan untuk membayar biaya pendidikan anak
  2. Harus membayar biaya rumah sakit
  3. Membayar hutang cicilan rumah dan mobil
  4. Menjadi korban PHK
  5. Memenuhi kebutuhan gaya hidup konsumtif
  6. Terlilit hutang kartu kredit
  7. Krisis ekonomi, terutama kenaikan bahan-bahan pokok
  8. Kecanduan narkoba dan miras
  9. Mendapat gaji yang tidak sesuai dengan beban kerja
  10. Terlilit hutang judi, dan lain sebagainya.

2. Adanya kesempatan

Faktor selanjutnya adalah adanya celah kesempatan atau peluang yang memungkinkan seseorang melakukan kecurangan. Maksudnya, peluang atau kesempatan tersebut adalah munculnya suatu kondisi di mana fraud bisa dilakukan meskipun sebelumnya tidak ada niat dari pelaku. Kesempatan dapat menjadi celah untuk pelaku kecurangan jika adanya hal-hal berikut ini.

  1. SOP yang berlaku di perusahaan tidak dijalankan dengan disiplin yang tinggi.
  2. Adanya karyawan yang memiliki multiple job desc.
  3. Kurangnya pengawasan terhadap kinerja karyawan terutama dari manajemen perusahaan.
  4. Penggunaan sistem/teknologi dalam perusahaan yang keamanannya tidak diperbaharui secara berkala.
  5. Kurangnya tindakan disipliner atas pelanggaran kebijakan atau peraturan meskipun terhadap pelanggaran ringan.

Untuk menghindari munculnya kesempatan bagi siapa pun yang berniat atau tidak berniat melakukan fraud, perusahaan perlu memberlakukan kebijakan dan peraturan yang lebih baik. Selain itu, perusahaan wajib mengawasi kinerja karyawannya secara ketat dan berkala, terutama untuk divisi yang berhubungan dengan keuangan perusahaan seperti HR, purchasing, marketing, kasir, finance, dan sales. Setiap pimpinan perusahaan juga harus mampu membaca laporan keuangan dengan teliti agar selalu mengetahui kondisi keuangan perusahaan sehingga bisa mengambil kebijakan strategis yang tepat.

3. Pembenaran

Berikutnya faktor yang ketiga yaitu pembenaran atau rasionalisasi. Tindakan ini merupakan pembelaan diri oleh pelaku karena merasa tidak bersalah dengan membenarkan alasan mereka melakukan fraud tersebut. Pelaku fraud merasa alasan melakukan tindakan kecurangan itu bisa dimaklumi dan diterima karena situasi yang mereka alami. Tidak jarang juga pelaku yang kemudian menyalahkan perusahaan atas tindakan yang mereka lakukan karena mereka merasa menjadi korban dari situasi yang ada, atau biasa disebut dengan playing victim. Contoh alasan pembenaran atau rasionalisasi atas tindakan fraud antara lain sebagai berikut.

  1. Merasa upah yang diberikan tidak sebanding dengan kerja kerasnya dan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.
  2. Kekecewaan karena tidak mendapatkan promosi jabatan.
  3. Berpikir bahwa perusahaan tidak akan rugi atau mengalami kebangkrutan hanya karena tindakan fraud yang dia lakukan.
  4. Merasa perusahaan bersikap tidak adil terhadap dirinya.
  5. Berpikir bahwa melakukan tindakan fraud adalah satu-satunya cara agar dia terbebas dari masalah keuangan yang dihadapinya.
  6. Merasa bahwa itu adalah haknya karena dia juga berkontribusi bagi kemajuan perusahaan.

Baca juga: 5 Fungsi Manajemen Keuangan dan Hal Penting Lainnya Yang Harus Kalian Ketahui!

Contoh fraud triangle dalam perusahaan

Fraud triangle adalah kasus yang banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar bahkan perusahaan menengah ke bawah. Tidak ada yang menyangka bahwa salah satu karyawannya berpotensi melakukan tindakan ilegal seperti fraud demi keuntungan pribadinya. Berikut adalah beberapa contoh kasus fraud triangle yang sering terjadi di Indonesia.

  1. Penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh karyawan untuk kepentingan pribadi demi menyokong gaya hidup mewahnya.
  2. Pencurian produk perusahaan dan menjualnya secara ilegal karena membutuhkan uang untuk biaya sekolah anaknya.
  3. Pemalsuan atau manipulasi data laporan keuangan karena uang perusahaan terpakai olehnya untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
  4. Mark-up biaya pembelian bahan baku atau produk demi mendapatkan keuntungan materi bagi dirinya sendiri.
  5. Manipulasi data stok produk dan menggunakan produk perusahaan tanpa izin resmi dari pihak-pihak yang berkewenangan.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur, Jenis dan Manfaatnya

Kelola payroll perusahaan lebih cepat dan aman dengan aplikasi GreatDay HR

fraud triangle adalah gdhr

Salah satu kecurangan laporan keuangan yang mungkin terjadi adalah di dalam pengelolaan payroll atau penggajian perusahaan. Rincian penggajian yang dicantumkan di dalam slip gaji mungkin saja dimanipulasi jika tidak diawasi dengan ketat. Terkadang karyawan hanya menerima jumlah total gaji yang diterima tanpa melihat rincian gaji seutuhnya karena tidak mengerti elemen-elemennya. Hal tersebutlah yang menjadi celah bagi pengelola gaji nakal untuk memanipulasi laporan keuangan terkait payroll.

Pengelolaan payroll dan rincian-rinciannya sebaiknya diinformasikan kepada seluruh karyawan perusahaan secara terbuka namun tetap hanya diketahui oleh karyawan secara personal.Untuk mewujudkan pengelolaan payroll yang aman dan cepat, aplikasi HRIS GreatDay HR hadir dengan fitur-fitur canggih yang dapat mengelola payroll dengan lebih praktis dan aman dari risiko fraud.Selain itu, Anda juga dapat mengelola pekerjaan HR lainnya seperti rekam absensi, pengajuan cuti, hingga proses rekrutmen karyawan baru hanya dengan satu aplikasi HRIS saja.

GreatDay HR juga didukung dengan kemudahan mengakses slip gaji dan melakukan pengawasan kinerja di mana saja dan kapan saja langsung dari ponsel pintar Anda. Keamanan data perusahaan, terutama terkait payroll juga terjamin karena GreatDay HR telah memenuhi standar internasional dan memperoleh dua sertifikat ISO terkait keamanan data.

Gunakan aplikasi HRIS terbaik GreatDay HR sebagai solusi pengelolaan pekerjaan HR perusahaan Anda. Unduh aplikasinya sekarang juga di Playstore dan Appstore melalui ponsel pintar Anda atau kunjungi laman webnya kemudian jadwalkan demo!

Baca juga: Mengenal Manfaat, Tujuan & Metode Analisa Laporan Keuangan

Trending Article
Subscribe News Letter
Get notification on your email