Jadwalkan Demo

HR dalam Gig Economy: Praktik Terbaik dan Tantangan yang Dihadapi dalam Pengelolaan SDM

Rizka Maria Merdeka | July 3, 2024 | Human Resource (HR)
by GreatDay HR

Dalam era digital yang semakin berkembang pesat, konsep Gig Economy semakin populer dan menjadi tren di berbagai sektor industri. Gig Economy, yang dikenal dengan model kerja fleksibel dan proyek jangka pendek, telah mengubah cara kita memandang dunia kerja. Lalu bagaimana HR dalam Gig Economy? Pasalnya, di balik fleksibilitas dan kebebasan yang ditawarkan, ada tantangan-tantangan unik yang harus dihadapi oleh departemen HR

Praktik terbaik dalam pengelolaan SDM menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan bahwa baik pekerja maupun perusahaan dapat meraih manfaat optimal dari model kerja yang dinamis ini.

Artikel ini akan mengulas tentang pengertian Gig Economy, mulai dari ciri-ciri, contoh pekerjaan, tantangan yang dihadapi HR, hingga praktik-praktik terbaik dalam mengatasi tantangan di Gig Economy, memberikan wawasan dan strategi yang efektif untuk sukses dalam lingkungan kerja yang terus berubah.

Simak selengkapnya!

Baca juga: Praktik Terbaik HR yang Perlu Anda Terapkan di Tahun 2024

Apa itu Gig Economy?

Gig Economy adalah istilah yang merujuk pada pasar kerja yang didominasi oleh pekerjaan sementara, kontrak pendek, atau freelance daripada pekerjaan tetap dan penuh waktu. Dalam gig economy, pekerja sering kali bekerja pada proyek atau tugas spesifik untuk jangka waktu yang singkat dan sering kali bekerja untuk beberapa pemberi kerja sekaligus.

Ciri-ciri Gig Economy:

  1. Fleksibilitas Waktu dan Tempat: Pekerja dapat mengatur jam kerja mereka sendiri dan sering kali bisa bekerja dari mana saja.
  2. Proyek atau Tugas Sementara: Pekerjaan bersifat sementara, biasanya terkait dengan proyek tertentu atau tugas khusus yang harus diselesaikan.
  3. Pendapatan Tidak Tetap: Pendapatan dapat bervariasi tergantung pada jumlah dan jenis tugas yang diselesaikan.
  4. Penggunaan Teknologi: Banyak platform digital yang mendukung gig economy, seperti aplikasi untuk ojek online, layanan pengiriman, atau platform freelance.

Contoh Pekerjaan di Gig Economy:

  1. Pengemudi taksi online (seperti Uber atau Grab).
  2. Pengantar makanan atau barang (seperti GoFood atau Deliveroo).
  3. Penulis lepas atau desainer grafis.
  4. Pengembang software kontrak.
  5. Pekerjaan rumah tangga seperti pembersihan atau perbaikan rumah melalui platform online.

Baca juga: Tren Rekrutmen 2024 yang Wajib HR Tahu

Tantangan yang dihadapi SDM dalam Gig Economy

Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Gig Economy menghadapi tantangan yang berbeda dari model pekerjaan tradisional. Berikut adalah tantangan-tantangan utama:

1. Keamanan Kerja dan Stabilitas

  • Pendapatan Tidak Stabil: Pekerja gig sering menghadapi fluktuasi pendapatan, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan finansial mereka.
  • Kurangnya Jaminan Pekerjaan: Pekerjaan sementara dan kontrak jangka pendek tidak memberikan jaminan pekerjaan jangka panjang.

2. Benefit dan Kesejahteraan Pekerja

  • Tidak Ada Benefit Karyawan: Pekerja gig biasanya tidak mendapatkan manfaat seperti asuransi kesehatan, pensiun, atau cuti berbayar.
  • Kurangnya Dukungan Kesejahteraan: Tanpa perlindungan pekerjaan formal, pekerja gig mungkin kesulitan mengakses dukungan kesejahteraan yang memadai.

3. Pengembangan dan Pelatihan

  • Sulitnya Pengembangan Karier: Pekerja gig mungkin menghadapi kesulitan dalam mengembangkan karier mereka karena kurangnya kesempatan pelatihan dan pengembangan yang disediakan oleh pemberi kerja.
  • Akses Terbatas ke Pelatihan: Kurangnya akses ke pelatihan formal dan pengembangan keterampilan dapat membatasi pertumbuhan profesional pekerja gig.

4. Komunikasi dan Koordinasi

  • Komunikasi Terbatas: Pekerja gig mungkin tersebar di berbagai lokasi dan memiliki jadwal yang berbeda-beda, membuat komunikasi dan koordinasi menjadi lebih menantang.
  • Kesulitan dalam Mengelola Tim: Mengelola tim yang terdiri dari pekerja gig yang tidak selalu berada di tempat yang sama atau bekerja pada waktu yang sama bisa menjadi sulit.

5. Kepatuhan Hukum dan Peraturan

  • Kepatuhan Hukum: Memastikan bahwa semua pekerja gig memenuhi persyaratan hukum dan peraturan setempat bisa menjadi tantangan, terutama jika pekerja tersebar di berbagai wilayah.
  • Status Hukum Pekerja: Menentukan status hukum pekerja gig, apakah mereka dianggap sebagai karyawan atau kontraktor independen, bisa menjadi kompleks dan berisiko hukum.

6. Penggunaan Teknologi

  • Ketergantungan pada Platform Digital: Banyak gig worker bergantung pada platform digital untuk menemukan pekerjaan, yang dapat menciptakan ketergantungan yang tinggi pada teknologi.
  • Keamanan Data dan Privasi: Melindungi data pribadi dan informasi pekerjaan dari pekerja gig menjadi sangat penting karena tingginya interaksi digital.

7. Pengalaman dan Kepuasan Pekerja

  • Kepuasan Pekerja: Menciptakan pengalaman kerja yang memuaskan bagi pekerja gig bisa menjadi sulit tanpa struktur dan manfaat tradisional.
  • Turnover Tinggi: Pekerja gig mungkin cenderung berpindah-pindah pekerjaan lebih sering, sehingga menciptakan tantangan dalam mempertahankan talenta.

8. Integrasi Budaya Kerja

  • Kesulitan dalam Integrasi: Mengintegrasikan pekerja gig ke dalam budaya perusahaan bisa menjadi tantangan karena sifat pekerjaan yang sementara dan terpisah dari struktur perusahaan utama.
  • Keterlibatan dan Motivasi: Tanpa ikatan jangka panjang dengan pemberi kerja, pekerja gig mungkin kurang terlibat atau termotivasi untuk berkontribusi secara penuh.

Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan pendekatan yang fleksibel dan inovatif dalam manajemen SDM, termasuk menyediakan pelatihan dan pengembangan, membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung bagi semua jenis pekerja.

Baca juga: 10 Tren Teknologi HR 2024 yang Penting Diketahui Para HR Profesional

Praktik terbaik HR dalam mengatasi tantangan Gig Economy

Mengelola sumber daya manusia dalam Gig Economy memerlukan pendekatan yang fleksibel dan inovatif. Berikut adalah praktik-praktik terbaik yang dapat diterapkan oleh departemen HR untuk mengatasi tantangan yang unik dalam gig economy:

1. Fleksibilitas dan Adaptasi

  • Jadwal Fleksibel: Menyediakan fleksibilitas dalam jam kerja memungkinkan pekerja gig untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan komitmen pribadi mereka. Hal ini bisa mencakup penjadwalan yang dinamis dan memungkinkan pekerja untuk memilih shift atau tugas yang sesuai dengan jadwal mereka.
  • Proyek dan Tugas Spesifik: Menyusun proyek atau tugas dengan definisi yang jelas membantu pekerja gig memahami apa yang diharapkan dari mereka. Penetapan tujuan yang spesifik dan tenggat waktu yang realistis memastikan mereka dapat bekerja dengan efisien dan efektif.

2. Manfaat dan Kesejahteraan

  • Asuransi dan Manfaat Tambahan: Menawarkan manfaat yang dapat diakses oleh pekerja gig, seperti asuransi kesehatan opsional atau program kesehatan mental, dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Perusahaan bisa membuat paket manfaat yang dapat dibeli atau diakses secara fleksibel oleh pekerja gig sesuai kebutuhan mereka.
  • Dukungan Keuangan: Untuk membantu mengatasi ketidakstabilan pendapatan, perusahaan dapat menyediakan program bantuan keuangan atau tabungan. Ini bisa berupa program pensiun yang dapat diakses pekerja gig atau bantuan sementara dalam situasi darurat keuangan.

3. Pengembangan dan Pelatihan

  • Pelatihan Berkelanjutan: Menyediakan pelatihan berkelanjutan yang relevan membantu pekerja gig untuk terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Pelatihan ini bisa berbentuk kursus online, workshop, atau sesi pelatihan langsung yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.
  • Program Mentoring: Program mentoring dapat memberikan dukungan tambahan bagi pekerja gig. Melalui bimbingan dari pekerja tetap atau profesional berpengalaman, pekerja gig dapat memperoleh wawasan dan arahan yang berguna untuk pengembangan karier mereka.

4. Komunikasi dan Koordinasi

  • Platform Kolaborasi: Menggunakan alat komunikasi dan kolaborasi digital, seperti Slack, Microsoft Teams, atau Trello, memastikan komunikasi yang efektif dan kolaborasi yang lancar. Platform ini memudahkan penyampaian informasi, diskusi, dan koordinasi tugas.
  • Feedback Berkala: Mengadakan sesi feedback secara berkala sangat penting untuk mendiskusikan kinerja, memberikan umpan balik konstruktif, dan mendengarkan masukan dari pekerja gig. Ini membantu meningkatkan keterlibatan dan motivasi mereka.

5. Kepatuhan Hukum dan Peraturan

  • Pengelolaan Kontrak: Menyusun kontrak yang jelas dan komprehensif membantu memastikan hak dan kewajiban pekerja gig dipahami dengan baik. Kontrak ini harus mencakup semua persyaratan hukum yang relevan untuk mengurangi risiko hukum.
  • Konsultasi Hukum: Mengkonsultasikan status hukum pekerja gig dengan pakar hukum membantu memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan mengurangi risiko hukum terkait status karyawan dan kontraktor independen.

6. Penggunaan Teknologi

  • Sistem Manajemen Kinerja Karyawan: Menggunakan sistem manajemen kinerja karyawan seperti GreatDay HR yang bisa membantu mengatur dan melacak pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja gig. Ini mempermudah penugasan tugas, pemantauan kemajuan, dan memastikan bahwa proyek berjalan sesuai jadwal.
  • Sistem Penggajian Otomatis: Menerapkan sistem penggajian otomatis seperti software payroll yang juga merupakan salah satu fitur dari GreatDay HR yang memastikan pekerja gig dibayar secara tepat waktu dan adil. Sistem ini meminimalisir kesalahan manual dan meningkatkan kepercayaan pekerja terhadap perusahaan.
  • Software HRIS: Software HRIS GreatDay HR merupakan paket lengkap yang bisa membantu otomatisasi seluruh pekerjaan HR, termasuk dua poin di atas, serta membantu dalam rekrutmen, pengajuan cuti dan lembur, employee engagement, dan pekerjaan HR lainnya.

7. Pengalaman dan Kepuasan Pekerja

  • Lingkungan Kerja Positif: Menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung di mana pekerja gig merasa dihargai dan diperhatikan. Ini bisa mencakup pengakuan atas pencapaian mereka dan memastikan mereka merasa menjadi bagian dari tim.
  • Pengakuan dan Penghargaan: Memberikan pengakuan dan penghargaan untuk kontribusi pekerja gig melalui program penghargaan, bonus, atau bentuk apresiasi lainnya dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja.

8. Integrasi Budaya Kerja

  • Onboarding yang Efektif: Menyediakan proses onboarding yang komprehensif membantu pekerja gig memahami budaya perusahaan, nilai-nilai, dan ekspektasi. Proses ini harus mencakup pengenalan terhadap tim, pelatihan dasar, dan panduan operasional.
  • Inklusivitas: Mengupayakan inklusivitas dengan melibatkan pekerja gig dalam kegiatan perusahaan dan komunikasi internal. Ini membantu membangun rasa keterlibatan dan mengurangi isolasi.

Dengan menerapkan praktik-praktik ini, departemen HR dapat lebih efektif dalam mengelola pekerja gig, meningkatkan kepuasan dan keterlibatan mereka, serta mengatasi tantangan yang ada dalam gig economy.

Baca juga: 10 Tren Terbaru HR 2024 untuk Memaksimalkan Pengelolaan SDM

Pekerjaan HR jadi lebih praktis dan optimal dengan GreatDay HR

hr dalam gig economy

Seiring berkembangnya zaman, tantangan dalam mengelola sumber daya manusia (SDM) di perusahaan juga mengalami perubahan dan pergeseran. Kondisi ini menuntut perusahaan, terutama HR, untuk lebih inovatif dan efektif dalam menangani berbagai masalah yang ada. Tantangan di era digital tentu harus diatasi dengan solusi digital juga.

GreatDay HR, aplikasi software HRIS terlengkap, hadir sebagai solusi atas berbagai kendala dalam pengelolaan SDM. Dengan fitur inti Employee Management, seluruh tugas HR dapat diotomatisasi dan disederhanakan. Mulai dari pengelolaan kehadiran karyawan, pengajuan cuti, hingga penggajian, semuanya bisa dilakukan dengan mudah. Kelola SDM dengan lebih nyaman dan jaga produktivitas tetap optimal!

Segera berlangganan dan unduh aplikasi GreatDay HR sekarang juga! Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.

Baca juga: 15 HR Skill yang Penting Dikuasai untuk Menunjang Karier

Trending Article
Subscribe News Letter
Get notification on your email