Jadwalkan Demo

No Work No Pay: Penjelasan tentang Pengertian, Sistem, dan Pro Kontranya

Rizka Maria Merdeka | April 30, 2024 | Human Resource (HR)
by GreatDay HR

Dalam dunia ketenagakerjaan, prinsip “no work no pay” telah menjadi topik yang menarik perhatian banyak pihak. Konsep ini mengemukakan bahwa pekerja hanya dibayar untuk waktu yang mereka kerjakan, sehingga absensi atau tidak melakukan pekerjaan akan berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang prinsip “no work no pay”, mulai dari pengertian dasarnya hingga cara sistem ini diimplementasikan dalam berbagai konteks kerja. Selain itu, kita juga akan mempertimbangkan berbagai pro dan kontra terkait prinsip ini, untuk memahami dampaknya bagi pekerja dan perusahaan.

Dengan memahami lebih dalam tentang prinsip ini, kita dapat mengevaluasi apakah prinsip “no work no pay” masih relevan dan adil dalam era kerja modern seperti saat ini. Baca artikel selengkapnya!

Baca juga: Promosi Keadilan Gaji dan Kesetaraan Upah: Mengimplementasikan Kebijakan yang Adil

No work no pay, apa itu?

“No work no pay” adalah prinsip yang digunakan dalam hubungan kerja yang menyatakan bahwa jika seorang pekerja tidak melakukan pekerjaannya, maka dia tidak akan dibayar untuk waktu yang tidak dia kerjakan. Artinya, upah atau gaji yang diterima oleh seorang pekerja secara langsung terkait dengan jumlah jam kerja atau hasil kerja yang dia lakukan. Jika seorang pekerja absen tanpa alasan yang sah atau tidak bekerja karena alasan tertentu, misalnya mogok atau cuti tanpa izin, maka mereka tidak akan memperoleh bayaran untuk waktu yang tidak mereka kerjakan tersebut. Prinsip ini umumnya diatur dalam peraturan perusahaan atau dalam peraturan ketenagakerjaan suatu negara.

Baca juga: UMP di Indonesia: Pengertian, Aturan, dan Kenaikan UMP Terbaru 2023/2024

Bagaimana sistem no work no pay?

Sistem “no work no pay” diterapkan dengan cara yang relatif sederhana:

1. Pekerja harus bekerja untuk mendapatkan bayaran

Dalam sistem ini, pekerja hanya akan dibayar untuk waktu yang mereka kerjakan. Jika mereka tidak hadir atau tidak melakukan pekerjaan, mereka tidak akan memperoleh bayaran.

2. Perhitungan bayaran berdasarkan jam kerja atau hasil kerja

Upah atau gaji pekerja dapat dihitung berdasarkan jumlah jam kerja yang dilakukan atau hasil kerja yang dihasilkan. Jika pekerja tidak bekerja, tidak ada upah yang akan diberikan.

3. Ketentuan dalam peraturan perusahaan atau peraturan ketenagakerjaan

Prinsip “no work no pay” sering kali diatur dalam peraturan perusahaan atau dalam peraturan ketenagakerjaan suatu negara. Hal ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban pekerja serta aturan terkait pembayaran upah.

4. Pengecualian tertentu

Meskipun prinsip ini umumnya berlaku, ada beberapa pengecualian. Misalnya, dalam situasi cuti sakit, cuti hamil, atau cuti dengan alasan lain yang diakui secara hukum, pekerja mungkin tetap berhak atas bayaran meskipun mereka tidak bekerja.

Sistem “no work no pay” ini sering kali digunakan untuk mendorong kehadiran dan produktivitas di tempat kerja, serta memberikan insentif bagi pekerja untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Baca juga: Selain Gaji Berupa Materi Ada Emotional Salary, Apa Itu?

Di negara mana saja sistem no work no pay diberlakukan?

Sistem “no work no pay” dapat diberlakukan di berbagai negara di seluruh dunia, terutama dalam konteks peraturan ketenagakerjaan. Namun, ketentuan dan implementasinya dapat bervariasi antar negara. Berikut beberapa contoh negara di mana sistem “no work no pay” mungkin diberlakukan:

  1. Amerika Serikat: Di AS, aturan “no work no pay” umumnya berlaku dalam kebanyakan sektor swasta. Meskipun ada undang-undang federal seperti Fair Labor Standards Act (FLSA) yang mengatur upah minimum, pengaturan lebih lanjut tentang pembayaran upah dan cuti biasanya diatur oleh perusahaan dan mungkin berbeda-beda.
  2. Inggris: Di Inggris, sistem “no work no pay” umumnya berlaku, tetapi ada juga ketentuan hukum yang melindungi pekerja seperti cuti sakit berbayar atau cuti libur wajib yang membayar.
  3. Kanada: Di Kanada, prinsip “no work no pay” sering kali diterapkan dalam hubungan kerja, tetapi ada juga peraturan provinsi yang mengatur hal-hal seperti cuti berbayar, cuti sakit, dan cuti libur.
  4. Australia: Di Australia, prinsip “no work no pay” umumnya berlaku, namun ada juga regulasi yang melindungi pekerja seperti upah minimum, cuti berbayar, dan cuti sakit yang dibayar.
  5. Singapura: Singapura juga menerapkan prinsip “no work no pay” dalam hubungan kerja, dengan beberapa pengecualian seperti cuti sakit yang dibayar dan cuti libur wajib.

Ini hanya beberapa contoh negara di mana sistem “no work no pay” dapat ditemukan. Praktik ini dapat bervariasi tergantung pada undang-undang, regulasi, dan kebiasaan lokal di masing-masing negara.

Indonesia juga menerapkan sistem “no work no pay” dalam hubungan kerja, tetapi tidak seutuhnya. Artinya, pekerja hanya dibayar untuk waktu yang mereka kerjakan, dan jika mereka tidak bekerja, mereka tidak akan dibayar. Namun, ada pengecualian seperti cuti sakit yang dibayar dan cuti lainnya yang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan.

Baca juga: Prinsip Dasar Upah dan Gaji Berdasarkan Peraturan Gaji Terbaru Menurut Pemerintah

Pro kontra tentang no work no pay

Berikut ini beberapa pro dan kontra terkait dengan sistem “no work no pay”:

Pro:

  1. Mendorong kehadiran dan produktivitas: Sistem ini dapat mendorong pekerja untuk hadir secara konsisten dan bekerja dengan produktif karena mereka hanya akan dibayar untuk waktu yang mereka kerjakan. Ini bisa membantu meningkatkan efisiensi di tempat kerja.
  2. Adil bagi pekerja yang hadir: Menerapkan prinsip “no work no pay” dianggap adil bagi pekerja yang hadir dan melakukan tugas mereka dengan baik. Mereka tidak akan merasa tidak adil jika rekan kerja yang tidak hadir tetap dibayar.
  3. Menghindari penyalahgunaan absensi: Sistem ini dapat membantu mencegah penyalahgunaan absensi atau cuti oleh pekerja, karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan dibayar jika mereka tidak bekerja.

Kontra:

  1. Kurangnya perlindungan bagi pekerja yang membutuhkan cuti: Sistem “no work no pay” dapat merugikan pekerja yang membutuhkan cuti karena alasan seperti sakit atau keluarga, terutama jika mereka tidak memiliki cuti yang dibayar.
  2. Tidak mengakomodasi situasi khusus: Ada situasi di mana pekerja tidak dapat bekerja karena alasan di luar kendali mereka, seperti cuaca buruk atau keadaan darurat. Dalam kasus seperti itu, prinsip “no work no pay” dapat dianggap tidak adil.
  3. Mengakibatkan stres keuangan: Bagi pekerja dengan penghasilan yang rendah atau tidak memiliki sumber pendapatan alternatif, tidak mendapatkan bayaran jika tidak bekerja dapat menyebabkan stres keuangan yang signifikan.

Penerapan sistem “no work no pay” sering kali merupakan keputusan yang kompleks dan harus dipertimbangkan dengan cermat, memperhatikan kebutuhan dan kondisi individu serta konteks perusahaan atau negara.

Baca juga: Unpaid Leave atau Cuti Tidak Berbayar, Apa Itu?

Trending Article
01
Rizka Maria Merdeka | November 28, 2023
22 Contoh Kelebihan dan Kekurangan Diri Saat…
02
Rizka Maria Merdeka | October 25, 2023
Penting! Panduan Lengkap Pangkat Golongan PNS Terbaru…
03
Rizka Maria Merdeka | November 18, 2021
14 Contoh Penulisan Notulen Rapat yang Tepat.…
Subscribe News Letter
Get notification on your email