Jadwalkan Demo

Mengenal Lebih Jauh Tentang Toxic Positivity: Ketika Hal Positif Memberi Efek Sebaliknya

Rizka Maria Merdeka | July 13, 2023 | Info & Update
by GreatDay HR

Dalam perjalanan menuju kesejahteraan mental dan kehidupan yang seimbang, sering kali kita dihadapkan pada tren yang disebut “toxic positivity”. Toxic positivity artinya sikap yang mengedepankan pikiran positif secara berlebihan, menolak mengakui atau menghargai emosi negatif, dan mengabaikan realitas yang sebenarnya.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi pengertian toksisitas positif, mengidentifikasi ciri-ciri yang mengiringinya, melihat faktor pemicunya, dan cara menghindari sikap yang toksik ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang toxic positivity, kita dapat membangun kesehatan mental yang lebih kuat, hubungan yang lebih autentik, dan hidup yang lebih seimbang secara emosional.

Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini!

Baca juga: Memiliki Sikap Ambisius dalam Berkarir, Baik atau Buruk?

Apa yang dimaksud dengan toxic positivity?

Toxic positivity artinya dorongan berlebihan dan tidak sehat terhadap pemikiran dan emosi positif sambil mengabaikan atau mengesampingkan emosi dan pengalaman yang negatif. Ini adalah pola pikir yang menyiratkan bahwa seseorang harus selalu memiliki pandangan positif sepanjang waktu dan tidak mengakui atau menghadapi emosi dan situasi negatif. Meskipun sikap positif ini bisa bermanfaat dalam konteks tertentu, toxic positivity dapat merugikan dan membuat seseorang rendah diri.

Toxic positivity dapat muncul dalam berbagai situasi, seperti dalam lingkungan kerja, hubungan personal, media sosial, atau bahkan dalam diri kita sendiri. Di lingkungan kerja, contohnya, ketika seseorang mengalami tekanan atau kesulitan, toxic positivity mungkin muncul dalam bentuk pernyataan seperti “Jangan biarkan itu mempengaruhimu,” “Cukup berpikir positif saja,” atau “Semua akan baik-baik saja.” Meskipun niatnya mungkin baik, pernyataan-pernyataan tersebut dapat membuat individu yang mengalami masalah merasa tidak dihargai atau tidak didengar.

Dalam hubungan personal, toxic positivity dapat terjadi ketika seseorang mencoba untuk menghibur atau membantu orang lain dengan terlalu mengesampingkan atau meremehkan perasaan negatif yang mereka alami. Misalnya, jika seseorang sedang sedih karena kehilangan, pendekatan yang toxic positivity mungkin adalah mengatakan, “Jangan sedih, kamu harus bersyukur karena masih memiliki banyak hal lain dalam hidupmu.” Pernyataan semacam itu tidak memberikan ruang bagi individu untuk mengalami dan mengolah emosi mereka dengan cara yang sehat.

Baca juga: Sikap Pantang Menyerah dalam Bekerja Itu Penting! Ini 10 Cara Menumbuhkannya

Ciri-ciri dari toxic positivity

Berikut adalah beberapa ciri-ciri toxic positivity:

1. Menolak emosi negatif

Toxic positivity cenderung menolak atau mengabaikan emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, atau kecemasan. Individu yang mempraktikkan toxic positivity akan menganggap bahwa hanya emosi positif yang diperbolehkan atau diterima.

2. Meminimalkan masalah atau kesulitan

Toxic positivity cenderung meremehkan atau mengabaikan masalah atau kesulitan yang dihadapi seseorang. Mereka mungkin menggunakan ucapan seperti “Hanya berpikir positif saja” atau “Semua akan baik-baik saja” tanpa memberikan ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan dan mengatasi masalah yang sebenarnya.

3. Mendorong pemikiran positif secara paksa

Toxic positivity sering mendorong individu untuk selalu berpikir positif, tanpa memberikan kesempatan untuk menghadapi realitas atau mengungkapkan emosi yang mungkin tidak positif pada saat itu. Ada tekanan untuk menyembunyikan atau menekan emosi yang tidak dianggap positif.

4. Tidak memberikan ruang bagi emosi yang sehat

Toxic positivity tidak mengakui pentingnya mengalami dan mengungkapkan berbagai emosi yang sehat, termasuk emosi negatif. Individu yang terjebak dalam toxic positivity mungkin merasa bersalah atau gagal jika mereka merasakan atau mengungkapkan emosi negatif.

5. Mengecilkan atau mengabaikan penderitaan orang lain

Toxic positivity dapat menganggap remeh atau mengabaikan penderitaan dan kesulitan orang lain dengan memberikan saran yang tidak sensitif atau klise seperti “Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja” tanpa memberikan dukungan emosional yang sebenarnya.

6. Perasaan tidak didengar atau tidak dipahami

Toxic positivity dapat membuat individu merasa tidak didengar atau tidak dipahami ketika mereka mencoba untuk berbagi pengalaman negatif atau emosi yang sulit. Hal ini dapat memperburuk isolasi sosial dan kecenderungan untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

Baca juga: 12 Jenis Soft Skill yang Perlu Dimiliki Untuk Menunjang Karir Anda

Faktor pemicu toxic positivity

Ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya toxic positivity. Berikut adalah beberapa faktor yang umum:

1. Budaya dan lingkungan sosial

Budaya yang menekankan nilai-nilai positivitas ekstrem atau mengesampingkan emosi negatif dapat mempengaruhi individu untuk mengadopsi toxic positivity. Lingkungan sosial yang memperkuat tekanan untuk selalu bahagia atau menghindari emosi negatif juga dapat memicu perilaku tersebut.

2. Ketakutan terhadap ketidaknyamanan

Beberapa individu mungkin merasa tidak nyaman atau takut menghadapi emosi negatif atau konflik. Toxic positivity dapat menjadi cara mereka untuk menghindari ketidaknyamanan tersebut dan menciptakan rasa aman dalam menjaga kesan positif.

3. Persepsi diri yang terkait dengan kesuksesan

Beberapa orang mungkin merasa bahwa kesuksesan atau citra diri mereka terkait erat dengan kesan positif yang mereka proyeksikan. Oleh karena itu, mereka mungkin terjerat dalam toxic positivity sebagai upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan citra yang diinginkan.

4. Pengaruh media sosial

Media sosial sering kali memperkuat tekanan untuk mempertahankan citra yang sempurna dan positif. Paparan yang berlebihan terhadap konten positif atau perbandingan sosial yang tidak sehat dapat mendorong individu untuk mengadopsi toxic positivity untuk mencocokkan diri dengan harapan-harapan yang tidak realistis tersebut.

5. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental

Ketidaktahuan tentang pentingnya mengakui dan mengelola emosi negatif dengan cara yang sehat dapat memicu toxic positivity. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental secara umum juga dapat berkontribusi terhadap adopsi pola pikir yang tidak sehat ini.

Penting untuk menyadari bahwa munculnya toxic positivity tidak selalu disengaja atau disadari oleh individu yang terlibat. Memahami faktor-faktor pemicu ini dapat membantu kita untuk lebih sensitif terhadap pengaruh dan mengembangkan sikap positif yang sehat dan berempati terhadap diri sendiri dan orang lain.

Baca juga: Punya Kepribadian Introvert? Ini Dia 8 Pekerjaan yang Cocok Untuk Introvert!

Cara menghindari toxic positivity

Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari toksisitas positif:

1. Kenali dan terima emosi negatif

Pertama-tama, penting untuk mengakui bahwa emosi negatif adalah bagian alami dari kehidupan dan tidak selalu perlu ditolak. Sadari bahwa mengalami emosi seperti kesedihan, kemarahan, atau kecemasan adalah hal yang normal dan sehat.

2. Berlatih kesadaran diri

Latih diri untuk menjadi sadar terhadap emosi dan pikiran yang muncul. Amati dan terima setiap emosi tanpa menilainya sebagai “baik” atau “buruk”. Kesadaran diri dapat membantu menghindari pembenaran berlebihan terhadap emosi atau memaksa diri untuk selalu merasa positif.

3. Tingkatkan pemahaman tentang kesehatan mental

Edukasi diri tentang pentingnya kesehatan mental dan keberagaman emosi dapat membantu mengatasi toksisitas positif. Pahami bahwa memperlakukan diri sendiri dengan lembut dan memperbolehkan diri untuk merasakan berbagai emosi adalah penting untuk kesejahteraan kita.

4. Gunakan pola pikir yang realistis

Mengadopsi pola pikir yang realistis berarti menerima bahwa kehidupan memiliki tantangan dan masa-masa sulit. Fokus pada solusi dan pertumbuhan, bukan hanya pada pemikiran positif semata. Berikan diri izin untuk merasakan dan mengatasi emosi negatif dengan cara yang sehat.

5. Ciptakan ruang untuk ekspresi emosi

Temukan outlet yang memungkinkan Anda untuk secara sehat mengekspresikan emosi negatif, seperti berbicara dengan teman dekat, menulis di jurnal, atau berpartisipasi dalam kegiatan kreatif. Berbagi pengalaman dengan orang yang dapat mendengarkan dan memahami tanpa menghakimi dapat membantu mencegah penumpukan emosi.

6. Bangun hubungan yang sehat

Carilah orang-orang yang memahami pentingnya keseimbangan emosi dan mendukung pertumbuhan pribadi Anda. Jalin hubungan yang memungkinkan Anda untuk terbuka tentang emosi negatif tanpa takut dihakimi atau diabaikan.

7. Melatih empati

Bukan hanya menerima emosi negatif dalam diri sendiri, tetapi juga mempraktikkan empati terhadap orang lain yang mengalami emosi negatif. Dengarkan dengan empati, tunjukkan dukungan, dan jangan mencoba untuk “memperbaiki” atau mengubah emosi mereka secara paksa.

Baca juga: Terapkan 12 Tips Ini Agar Anda Semangat Kerja di Pagi Hari!

Trending Article
Subscribe News Letter
Get notification on your email