HSE: Pengertian, Penerapan, dan Peran HRD

By Monica Permana   |  

 

 

HSE dalam perusahaan atau tempat kerja diperlukan untuk menjamin lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Sebab, setiap perusahaan pasti memiliki risiko bahaya yang dapat mengancam keselamatan karyawannya kapan saja dan di mana saja.

HSE biasanya dikenal sebagai bagian yang bertanggung jawab terkait kesehatan, keselamatan kerja, dan pengelolaan lingkungan kerja. Lantas apa pengertian dari HSE? Apa kaitan HSE dengan HRD perusahaan? Simak artikel berikut ini untuk penjelasannya!

Baca juga: Kinerja Karyawan: Pengertian, Faktor yang Mempengaruhinya, dan Cara Meningkatkan Kinerja

Pengertian HSE

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja diperlukan penerapan HSE dalam perusahaan. HSE adalah singkatan dari Health, Safety, dan Environment. Dalam bahasa Indonesia, HSE dikenal dengan sebutan K3 (Kesehatan, Keselamatan Keamanan Lingkungan).

HSE merupakan sebuah tahapan atau prosedur dalam mengidentifikasi bahaya yang dapat saja terjadi di lingkungan kerja. Dengan kata lain, HSE adalah sebuah aturan dalam lingkungan kerja yang bertujuan untuk menjamin kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja karyawan atau pihak yang berada dalam lingkungan kerja perusahaan.

Jadi, HSE adalah tim yang bertanggungjawab untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang mungkin terjadi di lingkungan kerja.

Fungsi HSE dalam perusahaan

Keberadaan HSE dalam sebuah perusahaan telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja. Di bawah ini beberapa fungsi HSE bagi perusahaan:

1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja ketika sedang bekerja dan HSE berperan sebagai tim yang bertanggung jawab atas kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja disebabkan oleh kelalaian operasional yang dapat menyebabkan kerugian pada karyawan maupun perusahaan. 

Untuk menghindarinya dibutuhkan penerapan HSE yang sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Kecelakaan kerja yang terjadi dapat memberikan cedera pada karyawan baik secara fisik maupun psikologis. Hal tersebut dapat berakibat pada menurunnya produktivitas kerja karyawan yang kemudian akan berdampak menimbulkan kerugian pada perusahaan.

2. Menghindari adanya penurunan pendapatan

Kecelakaan kerja dapat menyebabkan terhambatnya proses produksi. Hal tersebut diakibatkan oleh rusaknya beberapa mesin operasional sehingga menghentikan proses kerja produk sebuah perusahaan.

Apabila kegiatan operasional terhenti, maka mesin operasional akan membutuhkan perbaikan atau penggantian yang bisa saja memakan waktu yang lama. Dalam prosesnya, perbaikan ataupun penggantian mesin operasional akan memakan biaya yang tidak sedikit.

Sementara itu, hasil produksi yang hilang selama jeda waktu menunggu itu juga akan menjadi kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan.

3. Mengurangi risiko tuntutan hukum

Kecelakaan kerja dapat mendatangkan beberapa tuntutan hukum apabila pihak yang bersangkutan tidak bertanggung jawab. Karyawan berhak memperkarakan jika haknya tidak dipenuhi oleh perusahaan. Sebuah perusahaan dapat dituntut secara hukum jika tidak memenuhi hak dan kewajiban karyawannya dan perusahaan harus memenuhi tuntutan karyawan atau bernegosiasi terkait kerugian yang disebabkan oleh kelalaiannya.

Kelalaian yang terjadi di lingkungan kerja tidak hanya berisiko mendatangkan kerugian bagi internal perusahaan saja. Kecelakaan kerja yang menyebabkan karyawan mengalami cacat atau kelalaian proses operasional yang menyebabkan limbah mengotori lingkungan sekitar berisiko mendatangkan tuntutan hukum bagi perusahaan.

Hal tersebut dapat dicegah apabila perusahaan mau berinvestasi dengan menerapkan prosedur HSE yang baik di lingkungan kerja. Penerapan prosedur HSE juga dapat menghindari kemungkinan adanya tuntutan hukum terhadap perusahaan oleh karyawan.

4. Tuntutan kompensasi

Hal yang dapat dilakukan oleh karyawan yang terdampak akibat kelalaian perusahaan terkait jaminan keselamatan pekerjanya adalah tuntutan kompensasi. Hal ini umumnya berkaitan dengan klaim asuransi kesehatan dan keselamatan kerja. Biasanya, hal-hal terkait jaminan keselamatan kerja tercantum di dalam kontrak.

Jika terjadi hal yang mengancam keselamatan karyawan. Maka, mereka berhak untuk menuntut kompensasi untuk mengganti kerugian yang dideritanya. Oleh karena itu, penerapan HSE yang baik dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja yang berujung pada tuntutan kompensasi pada perusahaan.

5. Meningkatkan kepercayaan karyawan

Pengelolaan dan penerapan HSE yang baik, selain menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian, juga dapat meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan. Selain itu, karyawan yang merasa terlindungi akan lebih berkembang dan mampu meningkatkan kinerjanya tanpa khawatir keselamatannya terancam.

Tujuan HSE

Dalam penerapannya, HSE atau K3,  pada dasarnya memiliki tiga tujuan utama yang ditentukan berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Tujuan utama penerapan K3 di antaranya sebagai berikut.

  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Selain ketiga tujuan tersebut, penerapan HSE juga secara rinci diatur dalam PP RI No. 50 tahun 2012 yang terdiri dari tiga aspek, berikut di antaranya:

  1. Meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi,
  2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh,
  3. Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.

Dari tujuan-tujuan dan aspek-aspek tersebut, penerapan HSE di perusahaan dapat menciptakan keselarasan pemenuhan hak dan kewajiban antara pengusaha dan tenaga kerja. Hal tersebut berpengaruh secara khusus terhadap keberlangsungan perusahaan dan kinerja karyawan di dalamnya. Selain itu, dalam lingkup yang lebih besar dan umum, penerapan HSE yang baik juga berdampak terhadap tingkat kesejahteraan Negara.

Penerapan HSE dalam perusahaan

Prosedur pelaksanaan HSE yang baik harus melibatkan berbagai aspek yang ada di dalamnya agar tercipta keselarasan di perusahaan. Aspek tersebut mencakup kesehatan, keselamatan, dan lingkungan kerja. Aspek-aspek tersebut menjadi dasar atau sudut pandang dari penerapan HSE. Untuk lebih jelasnya, simak pemaparan lebih lanjut terkait penerapan HSE berikut!

1. Penerapan HSE dalam perusahaan dari aspek kesehatan kerja

Demi mewujudkan kesehatan kerja yang layak dan sesuai prosedur, proses, praktek kerja, dan aktivitas sistemik yang aman, berkualitas serta ramah lingkungan dalam perusahaan perlu diperhatikan. Tujuannya adalah untuk mengurangi dan mencegah kemungkinan risiko yang dapat membahayakan para pekerja internal perusahaan dan orang-orang sekitar.

2. Penerapan HSE dalam perusahaan dari aspek keselamatan kerja

Untuk memenuhi aspek keselamatan kerja, HSE melibatkan perencanaan upaya dan prosedur yang terorganisir guna mengidentifikasi bahaya yang mungkin muncul atau terjadi di lingkungan kerja. Hal tersebut dibuat untuk mengurangi risiko kecelakaan, salah satunya paparan zat kimia berbahaya, selama proses operasional.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu melalui pelatihan personil untuk mencegah kecelakaan, latihan tanggap dan kesiapsiagaan darurat, serta penggunaan pakaian dan peralatan keamanan yang memenuhi standar.

3. Penerapan HSE dalam perusahaan dari aspek lingkungan kerja

Selain aspek kesehatan dan keselamatan kerja, aspek lingkungan kerja juga perlu diperhatikan demi terciptanya kenyamanan dan keamanan dalam bekerja. Hal itu dapat dilakukan melalui pendekatan sistematis untuk mematuhi peraturan terkait lingkungan yang ada. Salah satu contohnya adalah mematuhi peraturan pengelolaan limbah yang benar sehingga emisinya tidak mencemari lingkungan sekitar dan merugikan banyak orang.

Dalam pelaksanaan atau penerapan HSE, sebaiknya dilakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala dan terstruktur. Hal itu perlu dilakukan karena HSE merupakan hal yang krusial yang harus selalu diawasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Selain itu, perusahaan juga harus memberikan sosialisasi terkait HSE kepada pekerjanya secara aktif, memberikan dukungan berupa penyediaan perlengkapan kerja yang memadai, serta mengadakan pelatihan bagi seluruh karyawan di perusahaan.

Potensi bahaya di lingkungan kerja

HSE di perusahaan merupakan hal yang sangat penting untuk direncanakan, dipahami, dan dipatuhi agar tidak terjadi hal-hal yang mengancam skeselamatan orang-orang di lingkungan kerja. Oleh karena itu, penerapan HSE dalam perusahaan diperlukan HSE officer yang mampu mengidentifikasi serta mengedukasi terkait bahaya dan potensi bahaya apa saja yang mungkin terjadi di lingkungan kerja.

Beberapa potensi bahaya di lingkungan kerja yang perlu diketahui di antaranya sebagai berikut.

1. Physical hazard

Hal ini berkaitan dengan bahaya yang menyangkut fisik seseorang di lingkungan kerja. Tiga aspek yang dapat menyebabkan terjadinya physical hazard yaitu temperatur, kualitas udara, kebisingan. Temperatur di lingkungan kerja yang terlalu dingin atau terlalu panas dapat mempengaruhi konsentrasi dan kesehatan para pekerja. Selanjutnya, kualitas udara di lingkungan kerja seperti tingkat kelembaban dan sirkulasi udara yang buruk dapat menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan seperti nafas terganggu, paru-paru basah, dan lain-lain. Kemudian, kebisingan yang disebabkan salah satunya oleh gesekan alat-alat operasional atau mesin di lingkungan kerja dapat mengganggu dan membahayakan alat pendengaran para pekerja.

2. Biological hazard

Merupakan bahaya yang disebabkan oleh binatang, tanaman, organisme dan mikroorganisme di lingkungan kerja yang berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia dan berpotensi membahayakan kesehatan para pekerja. Contohnya seperti bakteri, jamur, serangga, dan lain-lain.

3. Biomechanical hazard

Jenis bahaya ini merupakan bahaya yang berkaitan dengan hal yang bersifat ergonomis, seperti layout, aktivitas kerja yang kurang baik, dan desain kerja yang kurang memadai. Contohnya tampilan visual atau alat elektronik yang mengganggu, postur tubuh tidak netral, dan sebagainya.

4. Psychological hazard

Merupakan bahaya yang berkaitan dengan psikologis atau psikososial di lingkungan kerja. Misalnya stress, potensi terjadinya tindak kekerasan di lingkungan kerja, jam kerja yang terlalu panjang dan hal lainnya yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan seseorang yang kemudian dapat mempengaruhi performa pekerja.

5. Safety hazard

Bahaya jenis ini berkaitan dengan hal-hal yang dapat mengancam keselamatan di lingkungan kerja. Salah satunya adalah hal yang berkaitan dengan energi listrik. Potensi bahaya yang disebabkan oleh energi listrik yaitu kejut listrik, energi panas yang dari listrik, medan listrik, dan kabel listrik yang terbuka.

6. Health hazard

Salah satu bahaya yang berkaitan dengan kesehatan dalam skala besar adalah pandemi. Epidemic penyakit menular yang menyebar melalui kontak dalam populasi manusia. Pandemi seperti COVID-19 saat ini sangat berpotensi muncul di lingkungan kerja. Hal tersebut tentu saja dapat menyebabkan penurunan produktivitas pekerja.

7. Chemical hazard

Bahaya ini berhubungan dengan bahaya yang disebabkan oleh berbagai jenis bahan kimia yang berada di lingkungan kerja. Hal ini terutama disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang dapat merusak kesehatan dan lingkungan kerja itu sendiri. Misalnya iritan, gas CO, bahan kimia yang mudah terbakar, dan sebagainya.

Baca juga: Impact of Great Organizational Culture to Employee Performance

Tugas dan tanggung jawab HSE Officer

Setiap orang yang menjadi bagian dari HSE di suatu perusahaan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang berkaitan dengan keselamatan kerja seluruh karyawan. Petugas HSE diwajibkan mampu mengelola tugasnya dengan tepat dan cepat untuk memastikan bahwa segala potensi bahaya yang mungkin terjadi di lingkungan kerja dapat diatasi tanpa menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun.

Berikut adalah tugas dan tanggung jawab petugas HSE terkait keselamatan kerja:

  1. Memberikan panduan bagi seluruh karyawan tentang jenis potensi bahaya dan tata cara penanganan kondisi darurat dasar.
  2. Memberikan penyuluhan terkait kondisi tanggap darurat seperti kebakaran, masalah kelistrikan, dan lain-lain.
  3. Menyiapkan diri dalam kondisi darurat apapun dengan cepat dan tanggap.
  4. Melakukan identifikasi serta pemetaan dari potensi bahaya yang kemungkinan terjadi di lingkungan kerja.
  5. Membuat dan memelihara dokumen yang berkaitan dengan K3.
  6. Melakukan evaluasi kemungkinan atau peluang terjadinya insiden kecelakaan di lingkungan kerja.
  7. Menjadi penghubung antara peraturan pemerintah dan kebijakan perusahaan.
  8. Melaksanakan tugas-tugasnya dengan komitmen kemanusiaan yang tinggi.

Peran HRD terhadap penerapan HSE dalam perusahaan

HSE berada di bawah departemen SDM dalam suatu perusahaan. Petugas HSE diseleksi berdasarkan pertimbangan oleh Human Resource and Development (HRD). Jadi, HRD berperan penting dalam menentukan kelayakan dan keberhasilan penerapan HSE dalam perusahaan. Apa saja peran HRD? Berikut adalah beberapa peran HRD dalam proses penentuan HSE.

  1. Melakukan proses rekrutmen dan evaluasi terhadap kandidat dengan latar belakang yang relevan terkait kesehatan dan penanganan tanggap darurat,
  2. Membuat dan mengalokasikan anggaran untuk memfasilitasi layanan kesehatan internal bagi karyawan serta penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai,
  3. Menyiapkan pelatihan K3 untuk para karyawan di perusahaan,
  4. Mengelola dan menyampaikan informasi antar departemen di perusahaan terkait penanganan tanggap darurat,
  5. Menentukan anggaran untuk penanganan K3 dan operasional HSE secara efektif dan efisien.

Dari beberapa peran HRD terkait HSE di atas, diharapkan perusahaan dapat mencegah kecelakaan di lingkungan kerja. Jadi, HRD turut andil dalam keberhasilan penerapan prosedur HSE di perusahaan.

Sederhanakan proses rekrutmen dengan GreatDay HR 

greatday hr app

 

Departemen HRD memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan penerapan HSE di perusahaan. Misalnya, terkait perekrutan petugas HSE. Namun, selain proses rekrutmen pegawai, HRD juga memiliki tanggung jawab lainnya. Tentunya pekerjaan tersebut tidak bisa dikesampingkan. Contohnya analisis jabatan, mengelola payroll, employee engagement, dan lain-lain.

Guna membantu pekerjaan HRD, GreatDay HR menyediakan solusi canggih dan sederhana. Aplikasi GreatDay HR menyediakan fitur yang dapat Anda gunakan untuk mengelola pekerjaan terkait sumber daya manusia. Salah satunya proses rekrutmen.

GreatDay HR mampu mempermudah proses rekrutmen dengan lebih baik. Jadi, Anda bisa menghemat waktu, tenaga, bahkan biaya lho! Selain itu, pekerjaan lainnya juga dapat dikelola dengan mudah dengan GreatDay HR mobile app. Aplikasi GreatDay HR dapat diakses di mana saja dan kapan saja melalui ponsel pintar Anda.

Keamanan data penting Anda juga terjamin karena GreatDay HR sudah memenuhi standar internasional. Download aplikasinya dan segera jadwalkan demonya!

Tags :

Related Topics