Apa Saja yang Perlu Diketahui Seorang Karyawan Soal THR ?

Lebaran tinggal menghitung hari! Sudahkah Anda menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai karyawan dari perusahaan tempat Anda bekerja? Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sudah ada himbauan bagi seluruh anggotanya untuk memberikan jatah Tunjangan Hari Raya (THR) 14 hari sebelum hari H Lebaran kepada karyawan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai THR, sebenarnya seberapa banyak pemahaman Anda tentang THR? Mari kita kulik apa saja yang perlu diketahui karyawan soal THR dari berbagai sumber.

Apa itu THR?

Tunjangan Hari Raya Keagamaan (“THR Keagamaan”) adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada Pekerja/Buruh atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan (sumber: hukumonline) Pada dasarnya, pengaturan mengenai pekerja secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”). Namun, ketentuan mengenai Tunjangan Hari Raya Keagamaan (“THR”) tidak diatur dalam UU Ketenagakerjaan, melainkan secara khusus diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan (“Permenaker 6/2016”). Pengusaha wajib memberikan THR Keagamaan kepada pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih. Jika Anda telah bekerja di perusahaan tersebut selama selama lebih dari 1 (satu) tahun. Dengan demikian, Anda sebagai pekerja berhak mendapatkan THR.

Baca juga: Berapa Bonus THR Yang Anda Dapatkan Sesuai Peraturan Pemerintah

Pemberian THR di tiap perusahaan dapat berbeda-beda waktunya. Di dalam Permenaker Nomor 6 Tahun 2016 juga disebutkan bahwa tunjangan hari raya ( THR) diberikan satu kali dalam satu tahun sesuai dengan hari raya keagamaan masing-masing pekerja. Oleh karena itu, pemberian THR seharusnya tidak dilakukan ketika Lebaran saja. Untuk karyawan yang beragama Katolik maupun Kristen Protestan, THR diberikan ketika Hari Raya Natal. Sementara itu untuk pekerja yang beragama Hindu diberikan ketika Nyepi, dan mereka yang beragama Buddha diberikan ketika Waisak. Adapun karyawan yang beragama Konghucu diberikan ketika Imlek (sumber: Kompas, 2018).

Bagaimana menghitung pendapatan THR? Apa ada perbedaan dengan yang masih prorate? Berikut ini penjelasan dasar pemberian THR. Untuk mengetahui besaran THR yang berhak karyawan dapatkan, berpedoman pada (“Pasal 3 Permenaker 6/2016”) :

Cara Menghitung THR

  1. Besaran THR Keagamaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan sebagai berikut:
  • Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan sebesar 1 (satu) bulan upah.
  • Pekerja/Buruh yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 (dua belas) bulan, diberikan secara proporsional sesuai masa kerja dengan perhitungan:masa kerja x 1 (satu) bulan upah
    12
    Contoh perhitungan THR:
    Jika gaji per bulan Rp. 5.000.000, maka besar THR yang Anda terima dengan masa kerja 1,4 tahun adalah sebesar satu bulan upah, yakni Rp. 5.000.000Sementara, jika masa kerja Anda misalnya 6 bulan, maka perhitungan THR nya:
    (6 x Rp.5.000.000) ÷ 12 = Rp. 2.500.000,00
  1. Upah 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas komponen upah:
  • Upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean wages); atau
  • Upah pokok termasuk tunjangan tetap.
  1. Bagi Pekerja/Buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian lepas, upah 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sebagai berikut:
  • Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan atau lebih, upah 1 (satu) bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 (dua belas) bulan terakhir sebelum Hari Raya Keagamaan
  • Pekerja/Buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 (dua belas) bulan, upah 1 (satu) bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.

Baca juga: Cara Menghitung THR untuk Karyawan Tetap, Kontrak & Lepas

Perbedaan THR di Ranah Pemerintah dan Swasta

Di tahun ini perbedaan THR di ranah pemerintah dan swasta tidak memiliki perbedaan yang signifikan. THR tahun 2018 untuk aparatur pemerintah dibayarkan sebesar gaji pokok, tunjangan umum, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, dan tunjangan kinerja. Sementara THR untuk pensiun dibayarkan sebesar pensiun pokok, tunjangan keluarga, dan/atau tunjangan tambahan penghasilan. Dengan demikian, Pegawai Negeri Sipil (PNS), prajurit TNI, dan Polri, akan mendapatkan THR yang hampir atau sama dengan take home pay mereka satu bulan. (sumber: Kompas, 2018).

Kemana THR Pergi?

Berdasarkan data Google Indonesia tahun 2017 dilansir dari Kompas.com, ternyata masyarakat paling banyak mencari informasi soal THR pada minggu ketiga Ramadan. Dari hasil pencarian ini, kita bisa tahu, kemana saja sih “perginya” budget THR?

  • Ritel dan bahan makanan. Masyarakat cenderung mencari promo belanja di supermarket dan minimarket untuk meminimalisir pengeluaran.
  • Travel. Masyarakat mulai berburu promo tiket kereta dan pesawat sejak jauh-jauh hari menjelang Idul Fitri. Selain menghindari lonjakan harga tiket, juga mengantisipasi kehabisan tiket.
  • Gadget dan telekomunikasi. Masyarakat berburu promo paket video streaming dan paket data lainnya kemungkinan untuk mengisi waktu kosong selama puasa dan liburan. Begitu juga dengan pembelian gadget baru karena tren THR pertama dialokasikan anak muda ke pembelian gadget.
  • E-commerce. Masyarakat berbondong-bondong mencari promo-promo belanja online via Google Search, misalnya untuk membeli baju koko, mukenah, dan sebagainya.
  • Kartu kredit. Meski jumlah pengguna kartu kredit belum terlalu banyak, ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang rajin mencari promo-promo yang disediakan penyedia kartu kredit selama bulan Ramadan.

Nah, merangkum dari pembahasan THR ini, kira-kira bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mengalokasikan dana THR? Jika Anda memiliki masalah seputar penerimaan atau pemberian THR, perusahaan dan pekerja bisa memanfaatkan posko THR di Kementerian Ketenagakerjaan di Posko Peduli Lebaran yang berlokasi di Pusat Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSA) Kemnaker, Gedung B Kantor Kemnaker Jl. Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan. Pekerja bisa melaporkan diri jika tidak mendapatkan THR dari perusahaan tempatnya bekerja. Dikutip dari KataData, bagi perusahaan, posko ini juga dapat digunakan untuk berkonsultasi tentang THR sekaligus permasalahan yang dihadapi perusahaan dalam membayar THR. Jika Anda tidak dapat mengunjungi langsung, adapun layanan melalui :

Scroll to Top