Cara Menghitung PPN dan PPh dengan Mudah

Jika bicara soal wajib pajak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) tentunya sangat erat berkaitan. Namun tahukah Anda perbedaan keduanya dan cara menghitungnya? Ini dia ulasannya yang sudah kami rangkum. 

Perbedaan PPN & PPh

  • PPN dikenakan terhadap proses produksi/distribusi, sedangkan PPh untuk setiap penghasilan bagi orang pribadi atau badan yang merupakan Wajib Pajak.
  • Dibebankan kepada konsumen akhir, namun PPh dikenakan pada pihak yang mempunyai penghasilan. 
  • Jika PPN terdiri dari pajak pemasukan dan pengeluaran, PPh terdiri dari beberapa jenis PPh 21, PPh 22, PPh 23, PPh 25 dan PPh 29.
  • Tarif potongan PPN dikenakan tarif 10% sedangkan tarif PPh dikenakan sesuai dengan jenis PPhnya.

Cara Menghitung PPN & PPh

Baca juga: Cara Membuat NPWP dengan Mudah dan Efektif!

Apa Itu PPN? 

Merupakan pajak yang dipungut karena adanya pertambahan nilai dari adanya pemakaian faktor-faktor produksi oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang menyediakan, memproduksi, maupun menjual Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP), sehingga tidak mengehrankan Anda sering bersinggungan dengan PPN dalam hidup sehari-hari. 

Contohnya sendiri pajak atau Value Added Tax (VAT) atau Goods and Service Tax (GST), dikenakan saat Anda melakukan pembelanjaan di supermarket, restoran dan beberapa tempat tertentu

Tarif PPN

Mempunyai tarif sebesar 10%. Namun, kita juga mengenal tarif PPN sebesar 0% yang diterapkan atas:

  • Ekspor Barang Kena Pajak  tidak berwujud.
  • Ekspor Barang Kena Pajak berwujud.
  • Ekspor Jasa Kena Pajak.

Cara Menghitung PPN

Untuk menghitung PPN, Anda harus menggunakan rumus:

Jumlah tarif PPN x Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atau 10% x DPP.

Untuk semakin memudahkan maka berikut adalah kasus yang bisa memudahkan Anda

PT. Victory merupakan PKP yang menjual BKP pada PT. Amarta dengan harga Rp30.000.000. Maka, PPN terutang yang perlu disetorkan adalah:

PPN terutang: 10% x Rp30.000.000 = Rp3.000.000

Sehingga pajak pengeluaran yang akan dipungut oleh PT. Victory dari PT. Amarta sebesar Rp3.000.000

Apa Itu PPh

Pajak umum yang dikenakan kepada individu atau badan atas penghasilan yang diterima dalam periode satu tahun pajak. Dalam UU No. 36 Tahun 2008 yang mencantumkan kalau semua upah, gaji tunjangan, honorarium, serta pembayaran lainnya yang bersangkutan dengan jasa, pekerjaan, jabatan, atau kegiatan. Perlu diingat semakin besar pendapatan, maka tinggi juga pajak yang dikenakan.

Berikut ini adalah langkah menghitung PPh menurut situs resmi pajak:

Cara menghitung PPh

Baca juga: Ini Cara Mengisi SPT Tahunan Badan yang Benar!

Sebelum mengetahui cara penghitungan pajak penghasilan Anda, ada beberapa komponen yang perlu diketahui seperti 

Menghitung PTKP: Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah jumlah hasil pengurangan netto bagi wajib pajak individu yang digunakan untuk menentukan PKP(penghasian kena pajak )

Menurut Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor: Per-16/PJ/2016, besarnya PTKP adalah:

  • Rp 54.000.000 untuk diri Wajib Pajak orang pribadi.
  • Rp 4.500.000 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.
  • Rp 4.500.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga yang masih  dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tigas) orang untuk setiap keluarga.

Setelah mengetahui infromasi di atas ini saatnya mencari tahu selisih antara penghasilan kotor dengan PTKP, yang hasil akhirnya akan menjadi penghasilan kena pajak (PKP). Dari angka inilah Anda bisa menghitung pajak penghasilan.

  1. Untuk penghasilan bersih dari <Rp 50.000.000,00 tarif pajaknya sebesar 5%.
  2. Penghasilan bersih antara Rp 50.000.000,00 – Rp 250.000.000,00 dikenai tarif pajak sebesar 15%
  3. Penghasilan bersih antara Rp 250.000.000,00 – Rp 500.000.000,00 dikenai tarif pajak sebesar 25%
  4. Sedangkan untuk penghasilan bersih kisaran >Rp. 500.000.000,00 dikenai tarif pajak 50%.

Contoh Cara Menghitung Pajak Penghasilan

Andi adalah seorang pria single yang berprofesi sebagai pegawai di perusahaan yang mempunyai penghasilan per bulan Rp 5.000.000, maka penghasilan kotor per tahunnya mencapai Rp 60.000.000.

  1. Dalam kasus ini Andi PTKP Andi masuk dalam kategori PTKP poin pertama yaitu Rp 54.000.000. 
  2. Lalu hitung Penghasilan kotor-PTKP = penghasilan bersih yakni Rp 60.000.000-Rp 54.000.000 = Rp 6.000.000. Maka penghasilan bersih yang didapat adalah Rp 6.000.000.
  3. Dari nominal ini, maka besar pajak yang akan dibayarkan mengikuti poin tarif pajak yang kedua yakni 15%.
  4. Jumlah pajak penghasilan 15% x Rp 6.000.000 = Rp 900.000. Jadi, pajak penghasilan per tahun yang harus Anda setor ke negara adalah Rp 900.000 atau Rp 75.000 per bulan. 
Scroll to Top