Pemanfaatan Software HRIS dalam Mengelola SDM di Industri Manufaktur

By Rizka Maria Merdeka   |  

Industri manufaktur merupakan salah satu jenis industri dengan produktivitas yang mengalami perkembangan dan memberikan efek berantai secara meluas. Produktivitas industri manufaktur berpengaruh terhadap peningkatan nilai tambah bahan baku dan jumlah tenaga kerja.

Selain itu, Kementerian Perindustrian juga mencatat persentase kinerja industri manufaktur yang berada di atas PDB secara nasional, antara lain: tekstil dan pakaian 7,53%, logam 9,94%, dan alat angkutan 6,33%. Persentase tersebut menjadikan industri manufaktur sebagai sumber devisa serta penyumbang pajak dan bea cukai terbesar.

Artinya, industri manufaktur, khususnya di Indonesia, menjadi industri skala besar yang memiliki sumber daya manusia yang banyak juga. Sehingga, industri manufaktur membutuhkan sistem yang memadai dalam pengelolaan SDM-nya, salah satunya dengan penggunaan HRIS.

Faktanya, penggunaan HRIS di industri manufaktur dapat disesuaikan dengan kebutuhan karyawan yang notabenenya tidak setiap saat bekerja di depan komputer. Artikel kali ini akan membahas penggunaan sistem HRIS di perusahaan industri manufaktur. Simak pembahasannya untuk ketahui lebih banyak!

Baca juga: Informasi Lengkap tentang Perusahaan Manufaktur

Sekilas tentang industri manufaktur

Industri manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi/setengah jadi, dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri dan pekerjaan perakitan (assembling).

Perusahaan manufaktur juga dikenal sebagai perusahaan yang menyediakan produk yang dibutuhkan oleh pasar. Di mana semakin besar permintaan dari pasar, maka semakin banyak juga proses produksi yang akan dilakukan oleh pihak tersebut. Di Indonesia, manufaktur adalah seringkali disebut dengan pabrik atau factory dalam Bahasa Inggris.

Proses produksinya kemudian disebut dengan manufacturing atau pabrikasi. Berikut beberapa contoh perusahaan manufaktur:

  1. Industri tekstil dan garmen;
  2. Industri otomotif;
  3. Industri mesin dan alat berat;
  4. Industri logam;
  5. Industri berbasis plastik;
  6. Industri kimia;
  7. Industri farmasi;
  8. Industri rokok;
  9. Industri barang konsumsi, dll.

Sebagaimana industri lainnya, industri manufaktur juga memiliki ciri yang membedakannya dengan industri jenis lain. Ciri-ciri utama industri manufaktur antara lain sebagai berikut.

Temukan informasi & Tips HR Terkini dengan Subscribe Blog GreatDay HR

Pendapatan berasal dari penjualan

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi, menghasilkan serta menjual produk berupa barang. Barang yang dimaksud bisa berupa barang setengah jadi dan barang jadi seperti peralatan rumah tangga, berbagai jenis makanan dan minuman. Dengan begitu, penjualan barang menjadi sumber pendapatan utama perusahaan. Biasanya satu manufaktur memproduksi lebih dari 1 jenis barang jadi atau barang setengah jadi. Artinya, semakin banyak barang yang diproduksi, semakin banyak pula pendapatan yang masuk.

Persediaan produk dalam bentuk fisik

Produk yang menjual oleh perusahaan manufaktur adalah barang berwujud, sehingga perusahaan ini memiliki persediaan produk secara fisik. Persediaan produknya bisa berupa persediaan barang jadi yang siap menjual atau persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses yang nantinya akan memproses kembali menjadi barang jadi. Stok barang pun juga harus selalu diperbarui agar proses produksi tidak terhambat.

Kegiatan produksi menjadi aktivitas operasional utama

Sesuai dengan pengertiannya, aktivitas operasional utama dari perusahaan manufaktur adalah melakukan kegiatan produksi yaitu mengolah bahan baku atau barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Oleh sebab itu, perusahaan yang termasuk ke dalam industri manufaktur biasanya memiliki jumlah karyawan yang banyak untuk memenuhi target produksi dan meningkatkan produksi barang dalam skala besar.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur, Jenis dan Manfaatnya

Kendala pengeloaan SDM di industri manufaktur

Berfokus kepada kegiatan produksi, membuat industri manufaktur membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk memenuhi target jumlah barang yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu. Terlebih lagi, budaya kerja di industri manufaktur yang mengharuskan karyawan untuk lebih  banyak bekerja di lapangan atau mobile.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi HR perusahaan dalam pengelolaan SDM. Sebab, bagaimana pun, kesejahteraan dan kenyamanan karyawan harus tetap diperhatikan dan menjadi prioritas utama.

Faktanya, pengelolaan SDM di perusahaan baik skala kecil maupun besar pasti akan selalu menghadapi kendala atau hambatan dalam prosesnya. Berikut adalah beberapa kendala pengelolaan SDM di industri manufaktur.

Sistem absensi yang kurang memadai

Banyaknya jumlah karyawan di industri manufaktur dengan lokasi kantor dan pabrik yang berjauhan menyebabkan pengelolaan data absensi karyawan kurang terpantau. Sistem pengelolaan absensi yang kurang memadai dan tidak update memicu munculnya permasalahan pemalsuan dan ketidakakuratan absensi. Misalnya penggunaan sarana untuk pengisian data kehadiran yang konvensional seperti tulis tangan dan fingerprint yang rawan pemalsuan atau error.

Selain itu, penggunaan media absensi tersebut juga rawan terhadap penyebaran virus dan tidak praktis. Contohnya ketika pagi hari karyawan harus antri untuk mendapatkan giliran absen atau karyawan yang harus bekerja di luar kantor perlu melaporkan kehadiran secara manual.

Minimnya keterlibatan karyawan

Salah satu ciri industri manufaktur yang cukup menonjol adalah adanya jarak dengan kantor pusat, di mana pengambilan keputusan strategis berlangsung, dengan pabrik. Sementara itu, sebagian besar tenaga kerja berada di pabrik yang notabenenya jauh dari pusat pengambilan keputusan. Hal tersebut membuat manajemen melihat keterlibatan karyawan menjadi hal yang sering diabaikan.

Hal tersebut, faktanya, dapat menimbulkan berbagai potensi masalah dan juga dapat berakibat pada keputusan yang tidak tepat akibat perbedaan pemahaman antara pengambil keputusan dengan pihak yang ada di lapangan.

Sulitnya mengadakan pelatihan bagi karyawan

Menciptakan lingkungan kerja di mana pegawai dilatih untuk menangani tantangan industri adalah hal yang sangat penting dalam mengurangi turnover dan mempertahankan karyawan dengan kompetensi terbaik.

Salah satu hal yang dapat perusahaan lakukan adalah dengan memberikan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di perusahaan. Hal tersebut menjadi kendala tersendiri bagi industri manufaktur karena, lagi-lagi, adanya jarak antara kantor pusat (manajemen) dengan pabrik.

Belum lagi etos kerja dan mobilitas tinggi yang membuat manajemen terkadang kesulitan untuk memberikan pelatihan bagi karyawan. Tidak jarang juga manajemen abai terhadap kebutuhan karyawan dalam pengembangan karir dan kemampuan karena terpaut jarak.

Pembayaran gaji yang telat

Salah satu kendala atau masalah yang sering dihadapi oleh industri manufaktur adalah telat gajian. Sehingga seringkali terdengar berita terkait buruh pabrik yang demo karena gajinya sering dibayarkan telat atau kurang. Belum lagi upah lembur yang kadang tidak terhitung atau tertukar karena saking banyaknya karyawan.

Hal tersebut disebabkan salah satunya oleh sistem penggajian yang manual dan jumlah karyawan di industri manufaktur yang banyak. Sementara itu, petugas yang biasa mengelola penggajian jumlahnya sedikit. Pengolahan data absensi dan penghitungan komponen gaji karyawan yang rumit dalam jumlah besar seringkali membuat petugas yang bertanggung jawab atas penggajian kewalahan.

Baca juga: PPIC: Definisi, Tujuan, dan Manfaatnya di Perusahaan

Penggunaan HRIS sebagai solusi pengelolaan SDM industri manufaktur

HRIS di industri manufaktur gdhr

Sebelumnya dijelaskan bahwa industri manufaktur notabenenya memiliki SDM atau karyawan dalam jumlah banyak. Selain itu, karyawan di perusahaan manufaktur biasanya lebih sering bekerja di lapangan dibandingkan di depan komputer. Artinya, HR di perusahaan harus melakukan kerja ekstra untuk mengelola SDM di perusahaan dan memastikan kesejahteraan karyawan di dalamnya.

Solusinya yaitu, industri manufaktur perlu menggunakan sistem HRIS yang dapat disesuaikan dengan metode dan budaya kerja, serta mampu mengatasi dan mengeliminasi seluruh kendala pengelolaan SDM di industri manufaktur. Perusahaan manufaktur juga perlu memilih aplikasi HRIS yang tidak hanya dapat membantu dalam hal absensi atau payroll saja, namun dapat memfasilitasi kebutuhan administrasi dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Pilihlah GreatDay HR sebagai solusi pengelolaan SDM terlengkap untuk perusahaan manufaktur Anda! Melalui satu aplikasi, Anda bisa mengelola penggajian, absensi, pengawasan, rekrutmen, cuti, klaim, hingga employee engagement di perusahaan secara otomatis tanpa ribet. Dengan berbagai fitur canggih dan sistem yang update, HR dan perusahaan bisa menjamin kesejahteraan dan kenyamanan karyawan selama bekerja.

Dengan menggunakan aplikasi GreatDay HR, perusahaan di industri manufaktur dapat menghindari penggajian yang telat dan perekaman absensi yang ribet, hingga meningkatkan keterlibatan karyawan di perusahaan.

Tunggu apa lagi? Segera berlangganan dan download aplikasi mobile-nya, atau kunjungi websitenya untuk info lebih lengkap. Dapatkan kemudahan dan efektivitas dalam pengelolaan SDM serta perkembangan industri yang lebih baik bersama GreatDay HR!

Baca juga: HSE: Pengertian, Penerapan, dan Peran HRD

Tags :

Related Topics